Ayat-ayat Hukum Tentang Mediasi Perselisihan Suami-istri dalam Surah An-Nisa ayat: 34 dan 35 oleh Rahmat Yudistiawan

BAB I

PENDAHULUAN

 

Nusyuz dan Syiqaq adalah istilah dalam Fiqh Islam yang terdapat pada bab fiqh munakahat yang menjelaskan tentang problematika antara suami-istri. Dimana Nusyuz adalah keadaan dimana suami atau isteri meninggalkan kewajiban bersuami isteri sehingga menimbulkan ketegangan rumah tangga keduanya, sedangkan Syiqaq adalah keadaan dimana ketika problem antar suami dan istri tidak dapat diredam kembali atau dapat kita sebut dengan percekcokan.

Dalam makalah yang bertemakan “Ayat-ayat Hukum Tentang Mediasi Perselisihan Suami-istri dalam Surah An-Nisa ayat: 34 dan 35”, penulis berusaha menjelaskan dalam bentuk metode pengkaitan tema dan Syarhul Ayat sehingga memudahkan pembaca dalam memahami dan mengaplikasikan maksud ayat dalam tema ini.

Untuk itu penulis memaparkan satu persatu ayat-ayat dalam makalah ini, sebab turun, tafsir dan kandungan hukum yang terdapat dalam ayat tersebut. Mudah-mudahan dapat memberikan wawasan dan gambaran yang luas dalam pemaknaan ayat tentang Nusyuz dan Syiqaq.

BAB II

PEMBAHASAN

 

1.      TAFSIR SURAH AN-NISA’ AYAT: 34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya , maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya . Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (An-Nisa: 34)

1.1. Asbabun Nuzul Surah An-Nisa ayat: 34

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan kasus yang dialami oleh Sa‘id bin Rabi‘ yang telah menampar istrinya, Habibah binti Zaid bin Abi Hurairah, karena telah melakukan nusyûz (pembangkangan). Habibah sendiri kemudian datang kepada Rasul saw. dan mengadukan peristiwa tersebut yang oleh Rasul. Rasul kemudian memutuskan untuk menjatuhkan qishash kepada Sa‘id. Akan tetapi, Malaikat Jibril kemudian datang dan menyampaikan wahyu surat an-Nisa‘ ayat 34 ini. Rasulullah saw. pun lalu bersabda (yang artinya), “Aku menghendaki satu perkara, sementara Allah menghendaki perkara yang lain. Yang dikehendaki Allah adalah lebih baik.” Setelah itu, dicabutlah qishash tersebut.[1]

Dalam riwayat yang lain, sebagaimana secara berturut-turut dituturkan oleh al-Farabi, ‘Abd bin Hamid, Ibn Jarir, Ibn Mundzir, Ibn Abi Hatim, Ibn Murdawiyah, dan Jarir bin Jazim dari Hasan. Disebutkan bahwa seorang lelaki Anshar telah menampar istrinya. Istrinya kemudian datang kepada Rasul mengadukan permasalahannya. Rasul memutuskan qishash di antara keduanya. Akan tetapi kemudian, turunlah ayat berikut:

وَلاَ تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ

Janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Quran sebelum pewahyuannya disempurnakan kepadamu. (QS Thaha: 114).

Rasul pun diam. Setelah itu, turunlah surat an-Nisa’ ayat 34 di atas hingga akhir ayat.

1.2. Tafsir Ayat

Melalui ayat ini Allah Swt. mengingatkan kita bahwa terdapat sebab kelebihan seorang laki-laki atas seorang wanita, setelah pada ayat sebelumnya Allah menjelaskan bagian dari masing-masing (pria maupun wanita) dalam waris, dan melarang keduanya untuk mengangan-angankan kelebihan yang telah Allah tetapkan bagi sebagian mereka (kaum pria) atas sebagian yang lain (kaum wanita).

Jika kita membuka tafsir-tafsir klasik kalangan ulama terkemuka pada masa lalu, mereka pada umumnya sepakat manakala membedah pengertian “الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ”, bahwa laki-laki baik dalam konteks keluarga maupun bermasyarakat, memang ditakdirkan sebagai pemimpin bagi kaum wanita. Ini disebabkan karena terdapat perbedaan-perbedaan yang bersifat natural (fitri) antara keduanya, dan bukan semata-mata bersifat kasbi atau karena proses sosial, seperti dipahami oleh penganut teori kultur.

Frasa الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ bermakna bahwa kaum pria adalah pemimpin kaum wanita, yang lebih dituakan atasnya, yang menjadi pemutus atas segala perkaranya, dan yang berkewajiban mendidiknya jika melenceng atau melakukan kesalahan. Seorang pria berkewajiban untuk melakukan perlindungan dan pemeliharaan atas wanita. Oleh karena itru, jihad menjadi kewajiban atas pria, dan tidak berlaku bagi wanita. Pria juga mendapatkan bagian waris yang lebih besar daripada wanita karena prialah yang mendapatkan beban untuk menanggung nafkah atas wanita.[2]

Imam Ali Ash-Shabuni menyatakan bahwa kaum pria memiliki wewenang untuk mengeluarkan perintah maupun larangan yang wajib ditaati oleh para wanita (istri-istrinya) serta memiliki kewajiban untuk memberikan belanja (nafkah) dan pengarahan sebagaimana kewajiban seorang wali (penguasa) atas rakyatnya.[3]

Pada frasa  بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ, huruf  ba-nya adalah ba sababiyah yang berkaitan erat dengan kata  قَوَّامُونَ. Dengan begitu dapat dipahami, bahwa kepemimpinan kaum pria atas wanita adalah karena kelebihan yang telah Allah berikan kepada mereka (kaum pria) atas kaum wanita.

Dalam tafsirnya yang terkenal, Ibn Katsir menyatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin, penguasa, kepala, dan guru pendidik bagi kaum wanita. Ini disebabkan karena berbagai kelebihan laki-laki itu sendiri atas wanita, sesuai dengan firman Allah: وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ (bagi laki-laki ada kelebihan satu tingkat dari wanita) (QS al-Baqarah: 228). Selain itu, karena laki-laki berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya.[4]

Dalam kurun yang amat panjang, dari mulai Ibn ‘Abbas, At-Thabari, bahkan hingga Imam ‘Ali Ash-Shabuni, tafsir tersebut tidak banyak digugat, kecuali belakangan manakala pemikiran-pemikiran Islam mulai bersinggungan dengan wacana pemikiran Barat dan juga fakta yang memang menunjukkan tidak sejalannya lagi penafsiran tersebut dengan realitas kontemporer.

Ibnu ‘Abbas misalnya, mengartikan kata قَوَّامُونَ sebagai pihak yang memiliki kekuasaan atau wewenang untuk mendidik wanita. Hal yang kurang lebih sama juga dikemukakan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab tafsirnya Marah Labid.

Dengan nada yang sama, At-Thabari menegaskan, bahwa kata qawwâmûnbermakna penanggung jawab, dalam arti, pria bertanggung jawab dalam mendidik dan membimbing wanita dalam konteks ketaatannya kepada Allah.

Menurut Imam Al-Qurthubi, pria adalah pemimpin wanita karena kelebihan mereka dalam hal memberikan mahar dan nafkah; karena pria diberi kelebihan akal dan pengaturan sehingga mereka berhak menjadi pemimpin atas wanita; juga karena pria memiliki kelebihan dalam hal kekuatan jiwa dan watak. Surah An-Nisa’ ayat 34 ini juga menunjukkan kewajiban pria untuk mendidik wanita.

Sementara itu, Imam Asy-Syaukani, ketika menafsirkan ayat di atas, menyatakan bahwa pria adalah pemimpin wanita yang harus ditaati  dalam hal-hal yang memang diperintahkan Allah. Ketaatan seorang istri kepada suaminya dibuktikan, misalnya, dengan berperilaku baik terhadap keluarga suaminya serta menjaga dan memelihara harta suaminya. Ini karena Allah telah memberikan kelebihan atas suami dari sisi keharusannya memberi nafkah dan berusaha.

Tentang kelebihan laki-laki atas wanita, Imam ‘Ali Ash-Shabuni dalam tafsirnya juga mengatakan bahwa kalimat الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ adalah jumlah ismiyyah yang berfungsi sebagai dawam dan istimrar (tetap dan terus-menerus).

Sebab kepemimpinan (yakni adanya kelebihan) laki-laki atas wanita ada dua, yakni:

Pertama, adanya kelebihan dalam hal fisik penciptaan (jasadiyyah khalqiyyah). Pada faktanya, pria memiliki bentuk penciptaan yang sempurna, pemahaman dan akal yang lebih kuat, perasaan yang lebih adil,  dan tubuh yang kokoh. Pria memiliki kelebihan atas wanita dalam hal akal, pendapat, tekad, dan kekuatan. Oleh karena itu, pada pundak kaum prialah dibebankan risalah, kenabian, imamah kubra (khalifah, ataupun jabatan di bawahnya (imamah sughra), hakim, serta melakukan syiar-syiar agama—seperti azan, iqamat, khutbah, shalat Jumat, dan jihad. Wewenang menjatuhkan talak juga ada di tangan mereka. Mereka juga boleh berpoligami, memiliki kekhususan persaksian dalam kasus jinayat dan hudud, memiliki kelebihan bagian dalam pembagian waris, dan lain-lain.

Dalam tafsirnya, Fakhr Ar-Razi menyatakan bahwa kelebihan kaum pria atas wanita itu terdapat pada banyak aspek. Di antaranya adalah sifat hakiki dan sebagiannya terkait dengan hukum-hukum syariat. Sifat hakiki dikembalikan pada dua hal, yakni ilmu dan qudrah (kemampuan). Dua hal inilah yang menghasilkan kelebihan kaum pria atas wanita dalam hal akal, tekad, dan kekuatan; dalam kemampuan menulis, berkuda (berkendaraan), melempar. Dari kalangan mereka pula diutusnya para nabi dan banyaknya para ulama. Imamah (baik khalifah maupun jabatan penguasa di bawahnya), jihad, azan, khutbah, itikaf, kesaksian dalam masalah hudud dan qishash, kelebihan dalam pembagian waris, kewajiban membayar diyat dalam pembunuhan atau kesalahan dan dalam hal sumpah juga ada pada mereka. Kewenangan dalam pernikahan, talak, rujuk, dan berpoligami, penisbatan garis nasab juga ada pada merek. Semua itu menunjukkan adanya kelebihan kaum pria atas kaum wanita.

Kedua, adanya kelebihan dalam hal taklif syariat. Frasa وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ mengandung pengertian bahwa kaum pria  memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan kerabat dekat yang menjadi tanggungannya; mereka juga harus membayarkan mahar kepada kaum wanita untuk memuliakan mereka.[5]

Selanjutnya Allah menjelaskan keadaan kaum wanita (para istri) dalam kehidupan berumah tangga: adakalanya mereka taat; adakalanya mereka membangkang (melakukan nusyuz).[6] Dalam Shafwah At-Tafasir, dijelaskan bahwa frasa فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ merupakan perincian dari keadaan para wanita yang berada dalam kepemimpinan pria. Allah telah menjelaskan bahwa mereka (para wanita) tersebut terbagi dalam dua keadaan, yakni: (1) kelompok wanita shalihah dan taat; (2) kelompok wanita yang bermaksiat dan membangkang. Wanita shalihah akan senantiasa menaati Allah Swt. dan suaminya selama tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah, senantiasa melaksanakan kewajiban-kewajibannya, menjaga diri mereka dari melakukan perbuatan keji, menjaga kehormatan mereka, menjaga harta suami  dan anak-anak mereka, dan menjaga rahasia apa yang terjadi antara mereka berdua (suami-istri) dalam hal apa pun yang layak dijaga kerahasiaannya.[7]

Frasa وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ adalah menunjuk pada kelompok wanita yang kedua, yakni para wanita yang bermaksiat dan menentang, yakni mereka yang menyombongkan diri dan meninggikan diri dari melakukan ketaatan kepada suami.

Berdasarkan ayat di atas, ketika telah tampak bagi suami tanda-tanda nusyuz ini pada istrinya, suami wajib melakukan beberapa langkah untuk melakukan perbaikan (mengembalikan istri ke jalan yang benar) dengan menempuh tahapan sebagai berikut:

  1. فَعِظُوهُنَّ: memberikan nasihat, petunjuk, dan peringatan yang memberi pengaruh pada jiwa istrinya; dengan mengingatkan istrinya akan ancaman siksa yang diberikan Allah kepadanya karena kemaksiatan yang dilakukannya.[8]
  2. وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ: memisahkan diri dan berpaling darinya (istri) di pembaringan (pisah ranjang). Ini adalah kinayah (kiasan) dari meninggalkan  jimak (persetubuhan), atau tidak melakukan tidur bersama istri dalam satu tempat tidur yang sama, tidak mengajaknya bicara, dan tidak mendekatinya. Akan tetapi, suami tidak diperkenankan tidak mengajak bicara istri lebih dari 3 hari. Ibn ‘Abbas berkata, al-hajru bermakna tidak menjimak istri,  tidak tidur bersamanya di pembaringannya, dan berpaling dari punggungnya.[9] Tindakan ini akan sangat menyakitkan istri; dilakukan untuk membuat seorang istri  memikirkan dan merenungkan kembali apa yang telah dilakukannya. Jika yang demikian telah membuat istri sadar dan menaatinya, suami harus menerimanya dan tidak boleh melakukan langkah yang ketiga. Sebaliknya, jika yang demikian tidak membuat istri sadar juga, suami diperkenankan melakukan langkah yang ketiga.
  3. وَاضْرِبُوهُنَّ: memberikan pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak berbekas; tidak lain tujuannya sema-mata demi kebaikan.

Selanjutnya, kalimat فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا mengandung pengertian, bahwa jika istri menaati perintah suami, janganlah suami mencari jalan lain untuk menyakiti istrinya. Artinya, para suami dilarang menzalimi para istri mereka dengan cara lain yang di dalamnya terdapat aktivitas menyakiti dan menyiksa mereka.

Terakhir, kalimat إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا mengandung pengertian bahwa sesungguhnya Allah lebih tinggi dan lebih besar daripada para suami; Dia adalah pelindung para istri dari siapa pun yang menzalimi dan bertindak melampaui batas terhadap mereka.[10] Ini adalah peringatan keras bagi para suami agar tidak menzalimi istrinya. Maksudnya adalah agar para suami menerima tobat dari istrinya. Sebab, jika Yang Mahatinggi dan Mahabesar saja senantiasa menerima tobat hamba-Nya yang bermaksiat, maka tentu para suami lebih layak untuk menerima tobat para istri.[11]

1.3. Kandungan Hukum

Nusyus adalah keadaan dimana suami atau isteri meninggalkan kewajiban bersuami isteri sehingga menimbulkan ketegangan rumah tangga keduanya. Nusyus dapat datang dari pihak isteri maupun suami, nusyus dari isteri dapat berbentuk menyalahi tata cara yang telah diatur oleh suami dan dilaksanakan oleh isteri yang sengaja untuk menyakiti hati suaminya.

Sedangkan nusyus dari pihak suami terhadap isterinya adalah dari yang selama ini bersifat lembut dan penuh kasing saying lalu berubah menjadi kasar, atau suami yang biasanya bersikap ramah dan bermuka manis berubah bersikap tak acuh dan bermuka masam atau menentang. Dan kelalain suami untuk memenuhi kewajibannya pada isteri baik nafkah lahir maupun batin.

Dengan diwahyukannya surat al-Nisa’ ayat 34, agar seorang muslim memahami dan mampu bernbuat bijak jika terjadi permasalah rumah tangga. Seorang suami tidak boleh serta merta melukai istri dengan pukulan yang menyakitkan. Karena Islam tidak mengajarkan yang demikian, telah ada aturan yang baik dan benar ketika suami tengah menghadapi permasalahan seperti itu. Meskipun memukul istri itu dibenarkan dalam Islam, namun memukul yang tidak sampai melukai istri dan dengan niatan mendidik.

Ketika permasalahan yang dihadapi suami istri tak kunjung usai, belum menemukan jalan keluar, maka Islam pun telah mengatur dengan begitu rapi yaitu dengan mendatangkan dua hakim (hakamain) dari pihak suami maupun istri yang berfungsi untuk memberikan solusi atau jalan tengah ketika permasalahan itu sedang alot dari pasangan suami istri.

Nusyus muncul karena adanya suatu persoalan yang terjadi dirumah tangga suami isteri tersebut. Mungkin salah satu diantara mereka merasa ridak puas dengan sikap dan tingkah laku yang lain, sehingga ganjalan-ganjalan ini menimbulkan perubahan sikap seorang diantara keduanya.

Jika sikap ini muncul dari pihak isteri, maka Allah SWT telah memberikan jalan keluar yang baik seperti yang ditegaskan dalam Al-Qur’an an-Nisa’ : 34. Dalam ayat tersebut ada tiga langkah yang dianjurkan Allah bagi setiap suami, yaitu:

a)      Memberi nasehat bagi istri semaksimal mungkin, dengan mengingatkan kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang isteri.

b)      Jika setelah dinasehati istri tidak berubah sikapnya. Maka suami memisahkan tempat tidurnya.

c)      Jika sikap istri belum berubah, maka Allah SWT mengijinkan untuk memukul mereka sekedar member peringatn yang sifatnya tidak melukai.

Apabila pada langkah-langkah awal telah terjadi perubahan, maka sang suami tidak dibenarkan untuk sewenang-wenang dengan melakukan sesuatu yang menyusahkan atau menyakiti istri.[12]

2.      TAFSIR SURAH AN-NISA’ AYAT: 35

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (An-Nisa: 35)

2.1. Asbabun Nuzul Surah An-Nisa’ ayat: 35

Diriwayatkan dari Muqatil bahwa seorang perempuan bernama Habibah binti Zaid ibn Abu Zuhair melaporkan suaminya (Saad ibn Ar-Rabi). Dengan ditemani ayahnya, Habibah kemudian mengadu kepada Nabi SAW. Kata sang ayah: “ Saya berikan anakku kepadanya untuk menjadi teman tidurnya, namun dia ditempelengnya.”

Mendengar pengaduan itu, Nabi menjawab: “Hendaklah kamu mengambil pembalasan kepadanya, yakni menamparnya.” Setelah itu, Habibah bersama ayahnya pulang dan melakukan pembalasan kepada suaminya. Setelah Habibah melaporkan perbuatannya, Nabi SAW bersabda: “Kembalilah kamu, ini Jibril datang dan Allah menurunkan ayat ini.” Kemudian Nabi membacakannya. Dan bersabda: “Kita berkehendak begitu, Allah berkehendak begini. Dan apa yang Allah kehendaki itulah yang terbaik.”

Inilah ayat yang menjadi dasar penentuan adanya mediator (penengah, wasit) yang bertugas mendamaikan suami istri melalui jalan yang terbaik, yang disepakati semua pihak. Jika petunjuk al-Quran kita jalankan dengan baik, tidakperlulah suami istri harus menghadap hakim di pengadilan untuk memutuskan tali pernikahan, dengan akhir perjalanan berupa perceraian.[13]

2.2. Tafsir Ayat

Dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim karya Imam Jalalain yang di kenal sebagai kitab Tafsir Jalalain menafsiri ayat di atas sebagai berikut:

Lafadz “ وإن خفتم ” menyimpan/memiliki arti “ علمتم “ yang berarti mengetahui, “شقاق بينهما “ yaitu “خلاف بينهما، يعني: وجود نزاع بين الزوجة والزوج” terdapat perselisihan atau perbedaan antara istri dengan suami, فَابْعَثُوا إليهما برضاهما حكماً رجلاً عدلاً maka hendaknya suami istri tersebut mencari hakim yaitu laki-laki yang adil yang mereka ridhoi atau mereka hendaki, (من أهله) أي: من أقاربه، (وحكماً من أهلها) yaitu dari kerabat atau keluarga laki-laki dan dari kerabat/keluarga perempuan tersebut, وقيل: الحكمان(إن يريدا) قيل: الزوجان jika suami istri atau kedua hakim tersebut menginginkan, (إصلاحاً يعني: بصدق نيتهما فيه) sebuah kebaikan yaitu dengan niat yang sesungguh-sungguhnya, (يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا) يعني: بين الزوجين، أي: يقدرهما على ما هو الطاعة من إصلاح، أو تفريق. niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu untuk melakukan perbaikan ataupun perpisahan.[14]

2.3. Kandungan Hukum

Pada ayat ini Allah menjelaskan, bahwa jika kamu khawatir akan terjadi syiqaq (persengketaan) antara suami istri, sesudah melakukan usaha-usaha yang telah Allah jelaskan dalam ayat sebelumnya (An-Nisa: 34), maka kirimlah seorang hakam (juru pendamai) dari keluarga perempuan dan seorang hakam dari keluarga laki-laki. Kedua hakam itu dikirim oleh yang berwajib atau oleh suami istri, atau oleh keluarga suami istri.

Dua orang hakam itu sebaiknya seorang dari keluarga Suami dan seorang dari keluarga istri, dan boleh dari orang lain. Tugas hakam itu ialah untuk mengetahui persoalan perselisihan yang terjadi dan sebab-sebabnya, kemudian berusaha mendamaikannya. Tugas serupa itu tepat dilaksanakan oleh orang yang bijaksana meskipun bukan dari keluarga suami istri yang mungkin lebih mengetahui rahasia persengketaan itu dan lebih mudah bagi keduanya untuk menyelesaikannya.

Jika usaha kedua orang hakam dalam mencari Islah antara kedua suami istri yang bersengketa pada tahap pertama itu tidak berhasil maka diusahakan lagi penunjukkan dua hakam yang sifatnya sebagai wakil dari suami istri yang bersengketa dalam batas-batas kekuasaan yang diberikan kepadanya. Kalaupun ini belum berhasil, maka untuk ketiga kalinya dicari lagi dua orang hakam yang akan mengambil keputusan, dan keputusan itu mengikat.[15]

 BAB III

KESIMPULAN

 

Dalam makalah ini penulis berusaha menjelaskan dan memberikan gambaran kepada pembaca untuk dapat memahami indikasi dari beberapa ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang “Mediasi Perselisihan Suami-istri” terkait dengan Nusyuz dan Syiqaq. Dengan demikian, dalam makalah ini dapat penulis beri sekelumit kesimpulan bahwa:

  1. An-Nisa’ ayat: 34, memberikan gambaran tentang kewajiban seorang suami terhadap istri dalam hal nafkah dan menyikapi jika istri melakukan nusyuz kepada suami, dan Allah memberikan solusi langsung baginya.
  2. An-Nisa’ ayat: 35, Allah memberikan solusi lain jika seorang suami tidak mampu untuk meredam permasalahan antar mereka yang menyebabkan syiqaq antar keduanya sehingga Allah mengutus atau memerintahkan untuk membawa hakamain kedua belah pihak untuk melerai permasalahan mereka.

Sekian dan demikian, mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

 

Ihsan, Muhammad, Tafsir: Surat An-Nisaa’. Artikel diakses pada tanggal 19 Mei 2012 dari http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=4#Top.

Departemen Agama RI, The Miracle. Bandung: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009.

Al-Fata, Yusuf, Syiqoq. Artikel diakses pada tanggal 19 Mei 2012 dari http://seputarilmu.wordpress.com/2012/04/05/syiqoq/.

Yoki, Dosri, Nusyuz, Syiqaq dan Fungsi Hakamain Dalam Penyelesaiannya. Artikel diakses pada tanggal 20 Mei 2012 dari http://poetrachania13.blogspot.com/2010/12/nusyuz-shiqaq-dan-fungsi-hakamain-dalam.html

Jalaluddin, Muhammad, Tafsir Qur’an al Adzim. Surabaya: Darul Ilmi.

Zuhaili, Wahbah, Tafsir al-Munir, juz V. Syiria: Dar El-Fikr, 1991.

Ash-Shabuni, Muhammad Ali, Shafwah at-Tafasir, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.


[1]  Dr. Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Munîr, juz V, hlm. 53-54.

[2] Dr. Wahbah Zuhaili, op.cit., hlm. 54.

[3]  ‘Ali ash-Ash-Shabuni, Shafwah at-Tafasir, hlm. 273.

[4]  Dr. Wahbah Zuhaili, op.cit., hlm. 54.

[5] Dr. Wahbah Zuhaili, op.cit., hlm. 55.

[6]  Dr. Wahbah Zuhaili, op.cit., hlm. 55.

[7]  ‘Ali ash-Shabuni, op.cit., hlm. 274.

[8] ‘Ali ash-Shabuni, op.cit., hlm. 274

[9]  Ibid, hlm. 274.

[10]  Dr. Wahbah Zuhaili, op.cit., hlm. 57.

[11]  Ibid, hlm. 57.

[12] Dosri Yoki, Nusyuz, Syiqaq dan Fungsi Hakamain Dalam Penyelesaiannya. Artikel diakses pada tanggal 20 Mei 2012 dari http://poetrachania13.blogspot.com/2010/12/nusyuz-shiqaq-dan-fungsi-hakamain-dalam.html.

[13] Yusuf Al-Fata, Syiqoq. Artikel diakses pada tanggal 19 Mei 2012 dari http://seputarilmu.wordpress.com/2012/04/05/syiqoq/.

[14] Muhammad.Jalaludin, Tafsir Qur’an al Adzim .darul ilmi surabaya.76

[15] Muhammad Ihsan, Asbabun Nuzul: Surat An-Nisaa’. Artikel diakses pada tanggal 19 Mei 2012 dari http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=4#Top.

By rahmatyudistiawan

2 comments on “Ayat-ayat Hukum Tentang Mediasi Perselisihan Suami-istri dalam Surah An-Nisa ayat: 34 dan 35 oleh Rahmat Yudistiawan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s