KB dan Kependudukan oleh Rahmat Yudistiawan

BAB I

PENDAHULUAN

Manusia diciptakan oleh Allah dari segumpal tanah yang atas kehendak-Nya diperintahkan Malaikat untuk mengambilnya di bumi dan dibentuk sedemikian rupa sehingga jadilah sesosok manusia, yang akhirnya inilah awal terbentuknya manusia pertama yang dinamakan Adam. Kemudian, setelah Adam diciptakan kisah demi kisah akhirnya diciptakannya pula manusia kedua yang memiliki kelamin beda tapi dari jenis yang sama serta diambil dari tulang rusuk Adam yang akhirnya dinamakan Hawa. Yang kita ketahui bersama tujuan diciptakan manusia kedua yang dinamakan Hawa ini adalah sebagai bentuk rasa kasih sayang Allah agar Adam memiliki teman di surga. Akan tetapi, setelah Adam dan Hawa dipindahkan ke dunia yang berbeda yaitu bumi, disinilah awal manusia berkembang biak dan memiliki keturunan yang banyak. Kejadian ini merupakan fitrah dan kehendak  Allah untuk manusia memiliki keturunan dengan cara yang Allah tentukan dengan tujuan agar terciptanya kehidupan yang didasari atas rasa kasih dan sayang sehingga terciptalah kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan di muka bumi khususnya bagi manusia. Hal ini merupakan perintah tersirat bahwa manusialah yang memilki kewajiban menjaga dan melestarikan bumi sebagai wadah kehidupan mereka.

Memiliki keturunan merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT, karena dengannyalah manusia mampu bertahan hidup dari keterpunahan dan sebagai wujud hasil kasih sayang yang diberikan sehingga memiliki keturunan pun menjadi kebutuhan bagi umat manusia. Selain dari beberapa hikmah yang ada dari Allah memfitrahkan manusia untuk memiliki keturunan, yaitu manusia diberikan kepercayaan berupa amanah agar dapat menghidupi keturunannya hingga mampu hidup sendiri dan mandiri. Hal ini merupakan cara dan prosedur yang Allah berikan untuk menguji hamba-Nya berupa tanggung jawab dalam membentuk keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah agar rasa cinta, kasih dan sayang itu terus ada di muka bumi ini berupa cintanya orang tua dalam memelihara anaknya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, dari tahun ke tahun manusia hidup dengan cara mereka yang berbeda-beda. Ada yang menjalaninya sesuai dengan perintah-Nya, ada pula yang tersesat dari ketetapan-Nya. Disinilah bentuk perwujudan perubahan pola hidup manusia dari segala aspekya. Jumlah manusia pun makin lama bertambah seiring dengan berjalannya waktu dan ada pula yang berkurang, sehingga keseimbangan agar terciptanya ketentraman yang seharusnya dijaga sebagai bentuk kewajiban terbengkalai.

Dalam menyikapi kemajuan-kemajuan yang terjadi diberbagai aspek kehidupan dimasyarakat, mulai dari perubahan sosiologi, tekhnologi, ilmu kedokteran dan perubahan-perubahan lainnya yang tidak ditemukan di masa lalu. Sehingga kita harus mencari dan menemukan bagaimana solusi tentang masalah-masalah baru yang kita hadapi akibat dari globalalisasi, yang dalam hal ini Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai bentuk perwujudan kehendak Tuhan dan Ulama sebagai pewaris yang dapat memahaminya sesuai dengan situasi dan kehidupan manusia dan alam tidak diketumukan(secara gamblang) dan merasakan.

Maka dari itu, dari tema ini yang berjudul “Keluarga Berencana dan Kependudukan” sangat menarik untuk dibahas karena merupakan hal baru di era melenium yang harus kita cari hukumnya. Hal ini merupakan konsep dan metode dalam menyelesaikan masalah terkini di dalam kehidupan manusia dalam menyikapi perubahan khususnya perkembangan manusia dari segi jumlahnya di Negara-negara berkembang. Oleh karena itu, apakah metode baru tersebut yang kita ketemukan pada masa kita ini sesuai dengan hukum yang Allah tentukan atau tidak, sehingga kita pun tidak melakukan hal yang dilarang oleh-Nya.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Keluarga Berencana

Istilah Keluarga Berencana (KB), merupakan terjemahan dari bahasa inggris “Familiy Planning” yang dalam pelaksanaannya di Negara-negara barat mencakup dua macam metode atau cara yaitu:

  1. Planning Parenthood

Pelaksanaan metode ini menitik beratkan tanggung jawab kedua orang tua untuk membentuk kehidupan rumah tangga yang aman, tentram, damai, sejahtera dan bahagia, walaupun bukan dengan jalan membatasi jumlah anggota keluarga. Hal ini, lebih mendekati istilah bahasa arab Tandzimul Nasli (mengatur keturunan)

  1. Birth Control

Penerapan metode ini menekankan jumlah anak atau menjarangkan kelahiran, sesuai dengan situasi dan kondisi suami-istri. Hal ini, lebih mirip dengan bahasa arab Tahdidun Nasli (membatasi keturunan). Tetapi dalam perakteknya di Negara barat, cara ini juga membolehkan pengguguran kandungan (abortus); pemandulan (infertilitas) dan pembujangan (at-tabattulu)

Untuk menjelaskan pengertian Keluarga Berencana di indonesia, maka penulis mengemukakannya dengan pengertian umum dan khusus; yaitu:

  1. Pengertian umum

Keluarga Berencana ialah suatu usaha yang mengatur banyaknya jumlah kelahiran sedemikian rupa, sehingga, bagi ibu maupun bayinya, dan bagi ayah serta keluarganya atau masyarakat yang bersangkutan, tidak menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari kelahiran tersebut.

  1. Pengertian khusus

Keluarga Berencana dalam kehidupan sehari-hari berkisar pada pencegahan konsepsi atau pencegahan terjadinya pembuahan atau pencegahan pertemuan antara sel mani dari laki-laki dan sel telur dari perempuan sekitar persetubuhan.

Dari pengertian diatas, dapat dikatakan bahwa keluarga berencana adalah istilah yang resmi digunakan di Indonesia terhadap usaha-usaha untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga, dengan menerima dan memperaktekkan gagasan keluarga kecil yang potensial dan bahagia (Akseptor).

B.     Keluarga Berencana dan Kependudukan di Indonesia

Pertumbuhan dan perkembangan kehidupan ummat manusia di muka bumi ini menunjukkan bahwa seiring berjalannya waktu, manusia akan menghadapi keadaan yang terus berbeda. Dimulai dari segi sosiologi, norma hidup manusia, keilmuan tekhnologi dan perubahan lainnya. Perubahan ini menunjukkan bahwa semakin berkembangnya manusia maka diperlukannya pula sikap dan usaha bagaimana cara menghadapinya dan mencari solusinya.

Melihat kejadian-kejadian yang terjadi terhadap perkembangan sekarang ini terutama sektor pertumbuhan penduduk yang terjadi di Negara kita Indonesia semakin lama semakin menunjukkan pertambahan dari jumlah penduduk yang begitu cepat. Hal ini merupakan salah satu akibat semakin berkembangnya manusia maka berkembangnya pula sektor-sektor yang lainnya. Apalagi Negara kita adalah Negara yang berkembang yang masih dalam proses menuju Negara yang mandiri. Dari hal pertumbuhan penduduk yang begitu cepat mengakibatkan peningkatan perekonomian Negara, sedangkan yang kita ketahui saat ini bahwa Negara kita sedang dalam keadaan krisis ekonomi. Lapangan pekerjaan sangat dibutuhkan sedang masyarakat terus berkembang jumlahnya, sandang, pangan dan papan pun menjadi kebutuhan mendesak sedang kita pun masih mengimport kebutuhan tersebut dari Negara lain, kesehatan pun ikut menjadi bagian yang diperlukan sedang masyarakat miskin tak mampu menjalankan. Kesemua itu adalah fenomena kehidupan yang dialami Negara kita bahwa kebutuhan, kesejahteraan dan peningkatan kualitas bangsa ini disesuaikan oleh laju pertumbahan penduduk.

Oleh karenanya, jikalau hal tersebut di atas tidak segera ditanggulangi dan dicarikan solusi maka akan berpengaruh negatif terhadap pembangunan nasional, karena pemerintah bisa kewalahan menyediakan sarana perekonomian, fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, tempat wisata dan sebagainya. Menjadi tanggung jawab kementrian kesejahteraan rakyat sebagai pemerintah yang mengola laju pertumbahan rakyat dan kita bersama sebagai masyarakat wajib dan sadar akan apa yang telah kita alami agar ikut berpartisipasi menjalankan aturannya. Sebagaimana kaidah Ushul Fiqh menyatakan:

مَصَالِحِ الْعَامِّ مُقَدَّمُ عَلى مَصَالِحِ الْخاصِّ

“Kemaslahatan mayoritas harus didahulukan dari pada kemaslahatan minoritas.”

Berdasarkan sebuah data:

  1. Bahwa penyebaran dan kepadatan penduduk Indonesia tidak merata, sebab lebih dari 60% penduduk Indonesia tinggal di pulau Jawa yang luasnya hanya 7% dari tanah air.
  2. Bahwa dalam masa 50 tahun terakhir ini (tahun 1930-1980) pertumbuhan penduduk Indonesia mengalami kenaikan yang cukup tinggi, 1,5% untuk tahun 1930-1961, 2,1% untuk tahun 1961-1971 dan 2,3% untuk tahun 1971-1980.

Melihat data tersebut di atas, jika tidak segera ditanggulangi maka akan berpengaruh negatif terhadap pembangunan Nasional. Dengan menyadari ancaman yang bakal terjadi, maka pemerintah menjadikan keluarga berencana sebagai bagian dari pembangunan nasional. Maka pada tahun 1968, Presiden menginstruksikan kepada menteri negara kesejahteraan rakyat, melalui SK. Presiden nomor 26 tahun 1968, yang bertujuan untuk membentuk suatu lembaga resmi pemerintah, yang bernama “Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN)” yang bertugas untuk megkoordinir kegiatan keluarga berencana. Kemudian pada tahun 1969, program tersebut mulai dimasukkan kedalam program pembangunan nasional pada pelita I. Dan kira-kira satu tahun sesudahnya maka pemerintah menganggap perlu membentuk suatu lembaga pemerintah yang diberi nama “Badan Koordinasi Keluiarga Berencana Nasional (BKKBN)” yang bertugas untuk mengkoordinir semua kegiatan KB di Indonesia. Maka sejak itu pula, masalah kependudukan di Indonesia sudah bisa terkendalikan dengan baik serta seluruh lembaga pemerintah dan swasta, mengambil bagian untuk menyukseskan pembangunan nasional dibidang kependudukan.

Dari semua hal di atas, menunjukkan perkembangan permasalahan khususnya di Indonesia semakin bertambah luas, dimana keluarga berencana dianggap sebagai salah satu cara untuk menurunkan angka kelahiran dan sebagai satu sarana untuk mengendalikan pertambahan penduduk yang semakin pesat. Maka menjadi suatu keinginan pemerintah kita dalam mencari solusi yang tepat agar kesejahteraan masyarakat dapat merata. Apabila laju pertumbuhan penduduk sudah dapat dikendalikan dengan program KB, maka pemerintah sudah bisa mengupayakan peningkatan kualitas penduduk, dengan cara menyediakan fasilitas perekonomian, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Sehingga pada masa yang akan datang, penduduk Indonesia semakin tinggi kualitas hidupnya dan semakin maju tingkat kecerdasannya.

C.    Pemecahan Masalah Keluarga Berencana dalam Kacamata Fiqh

Kita lihat dari sudut pandang Fiqhiyyah dalam menanggapi masalah dan metode ini. Dalam pembahasan ini, penulis hanya meninjau status hukumnya dengan mendasarkan kepada nash Al-Quran dan Hadits serta logika (dalil aqli).

Pelaksanaan KB dibolehkan dalam Islam karena pertimbangan ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Artinya, dibolehkan bagi orang-orang yang tidak sanggup membiayai kehidupan anak, kesehatan dan pendidikannya agar menjadi akseptor KB. Bahkan menjadi dosa baginya, jikalau ia melahirkan anak yang tidak terurusi masa depannya, yang akhirnya menjadi beban yang berat bagi masyarakat, karena orang tuanya tidak menyanggupi biaya hidupnya, kesehatan dan pendidikannya. Hal ini berdasarkan pada sebuah ayat Al-Quran yang berbunyi:

وليخش اللذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم فليتقوا الله واليقولوا قولا سديدا

Dan hendaklah orang-orang takut kepada Alloh bila seandainya mereka meninggalkan anaka-anaknya yang dalam keadaan lemah; yang mereka hawatirkan terhadap (kesejahteraan mereka)oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Alloh dan mengucapkan perkataan yang benar.(An-Nisa’: 9)

Ayat ini menerangkan bahwa kelamahan ekonomi, kurang stabilnya kondisi kesehatan fisik dan kelemahan integensi anak akibat kekurangan makanan yang bergizi, menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya. Maka disinilah peranan KB untuk membantu orang-orang yang tidak dapat menyanggupi hal tersebut, agar tidak berdosa di kemudian hari bila meninggalkan keturunannya.

Mengenai alat kontrasepsi وسائل منع الحمل yang sering digunakan ber KB, ada yang dibolehkan dan ada pula yang diharamkan dalam Islam. Selanjutnya, alat kontrasepsi yang dibolehkannya adalah:

Untuk wanita, seperti:

  1. IUD (ADR)
  2. Pil,
  3. Obat suntik,
  4. Susuk,
  5. Cara-cara tradisional dan metode yang sederhana misalnya minuman jamu dan metode klender.

Untuk pria, seperti:

  1. Kondom,
  2. Coituis Interruktus (’azal menurut Islam).

Cara ini desepakati oleh ulama islam bahwa boleh digunakan, berdasarkan dengan cara yang telah diperaktekkan oleh para sahabat nabi semenjak beliau masih hidup, sebagaimana keterangan sebuah hadits yang bersumber dari Jabir, berbunyi:

كنا نعزل على عهد رسول الله صلى عليه و سلم واقران ينزل (متفق عليه (
و في لفظا خركنا نعزل فبلغ ذلك نبى صلى عليه وسلم ينهنا (رواه مسلم عن جابر أيضا(

Kami(Para Shahabat) pernah melakukan ‘azal dimasa Rasululloh SAW, sedangkan Alqur’an (ketika itu) masih selalu turun, (Muttafaq ’Alaih). Dan pada hadist lain mengatakan: Kami pernah melakukan ‘azal (yang ketika itu) Nabi mengetahuinya, tetapi ia tidak pernah melarang kami, (H.R Muslim, yang bersumber dari Jabir juga)

Hadist ini menerangkan bahwa boleh melakukan cara kontrasepsi Coitus Interruktus atau ’azal. Karena itu seandainya perbuatan tersebut dilarang oleh Allah, maka pasti ada ayat yang turun untuk mencegah perbuatan itu. Begitu juga halnya sikap Nabi ketika mengetahui, bahwa banyak diantara sahabat yang melakukan hal tersebut, maka beliaupun tidak melarangnya. Pertanda bahwa melakukan ‘azal (coitus interruktus) dibolehkan dalam Islam untuk ber-KB.

Sedangkan alat kontrasepsi yang dilarang dalam Islam, adalah:

  1. Untuk wanita, seperti: Ligasi Tuba (mengikat saluran kantong ovum) dan Tubektomi (mengangkat tempat ovum). Kedua istilah ini disebut sterilisasi.
  2. Untuk pria, seperti: Vasektomi (mengikat atau memutuskan saluran sperma dari buah Zakar) dan cara ini juga disebut sterilisasi.

Adapun dasar dibolehkannya KB dalam Islam menurut dalil aqli, adalah karena pertimbangan kesejahteraan penduduk yang didiam-diamkan oleh bangsa dan negara. Sebab kalau pemerintahan tidak melaksanakannya maka keadaan rakyat di masa datang, dapat menderita.

Oleh karena itu, pemerintahan menempuh suatu cara untuk mengatasi ledakan penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan perekonomian nasional dengan mengadakan program KB, untuk mencapai kemaslahatan seluruh rakyat. Upaya pemerintah tersebut, sesuai dengan kaidah fiqhiyah yang berbunyi:

تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة

Kebijaksanaan imam (pemerintahan) terhadap rakyatnya bisa dihubungkan dengan (tindakan) kemaslahatan.

Pertimbangan kemaslahatan umat (rakyat) dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk menetapkan hukum Islam menurut mazdhab Maliki. Di Negara Indonesia yang tercinta ini, pemerintahan sebagai pelaksana amanat rakyat, berkewajiban untuk melaksanakan program KB. Maka program tersebut hukumnya boleh dalam Islam, karena pertimbangan kemaslahatan umat (rakyat).

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Dari tema pemakalah ini yang berjudul ”Keluarga Berencana dan Kependudukan”, berusaha untuk memaparkan tentang bagaimana solusi KB sebagai metode menyeimbangkan populasi dalam meratakan kesejahteraan di Negara Indonesia ini khususnya. Dapat ditarik kesimpulan dalam makalah ini, bahwa KB bukanlah sebagai bentuk pembatasan, pencegahan apalagi pelarangan memiliki keturunan melainkan cara atau metode bagaimana mengatur sebuah keluarga agar tidak terjadinya kemadharatan dalam kehidupan di muka bumi khususnya manusia itu sendiri yang menjalaninya.

Salah satu solusi dalam menekan ledakan jumlah penduduk berupa KB ini, adalah cara yang sejak dahulu pernah dilakukan semasa shahabat Nabi. Dengan bukti hadist yang ada, bahwa para shahabat pernah melakukan ’azal yang hal tersebut merupakan salah satu cara ber-KB yang dalam istilah ilmiahnya Coituis Interruktus. Oleh sebab itu, maka para ulama membolehkan metode ini sebagai bentuk solusi dalam memecahkan masalah yang kita hadapi di era melenium saat ini. Namun kebolehannya disyaratkan tidak adanya bahaya, semisal pencegahan kehamilan permanen dengan teknik Vasektomi dan Tubektomi yang menyebabkan tidak dapat memilki keturunan lagi. Hal ini tentunya haram sebab Nabi Saw. telah melarang dalam hadistnya pengebirian atau al-ikhtisha’.

Mudahan-mudahan makalah ini dapat memberikan pencerahan bagi para pembaca mengenai Masail Fiqhiyyah berupa hukum metode KB. Dan mohon maaf jika terdapat kekurangan dalam penyampain dan keakuratan informasi yang penulis berikan dalam makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

 

Diah, Ricky, Keluarga Berencana dan Kependudukan, Artikel ini diakses pada tanggal April 2011 dari http://ricky-diah.blogspot.com/2011/04/makalah-masail-fiqhiyah-kb-dan.html.

Arifin, Badrul, Keluarga Berencana (KB) Menurut Pandangan Islam, Artikel ini diakses pada tanggal Mei 2010 dari http://ekookdamezs.blogspot.com/2010/05/makalah-keluarga-berencana-kb-menurut.html.

Al-Jawi, Muhammad Shidiq, Hukum Keluarga Berencana (KB), Artikel ini diakses pada tanggal 13 Maret 2007 dari http://konsultasi.wordpress.com/2007/03/13/hukum-kb/.

By rahmatyudistiawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s