Kisah Kehidupan Luhur “Sang Inspirator Islam”(Imam Syafi’i) oleh Rahmat Yudistiawan

BAB I

PENDAHULUAN

Imam Syafi’I ialah imam yang ketiga menurut susunan tarikh kelahiran. Beliau adalah pendukung terhadap ilmu hadist dan pembaharu dalam agama (mujaddid) dalam abad kedua Hijriah.

Masa hidup Imam Syafi’I ialah semasa pemerintahan Abbasiyah. Masa ini adalah suatu masa permulaan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagaimana telah diketahui di masa ini juga penerjemah kitab-kitab mulai banyak, ilmu falsafah juga dipindahkan, ilmu-ilmu juga disusun dan berbagai pemahaman telah timbul dalam masyarakat Islam. Banyaklah peristiwa yang ada kaitannya denga masyarakat berlaku dan bermacam-macam pula aliran pikir berkembang serta banyak pula pengacau.

Percobaan untuk membuat kekacauan dan kejahatan dikalangan umat telah berlaku, di masa ini juga timbul golongan Mutakallimin dan pengacau yang keluar dari agama. Perbedaan antara Ahlul-Hadist dan Ahlul-Nakli dengan aliran Ahlul-Ra’yi mulai diketahui oleh orang banyak. Bidang perbincangan dan perdebatan antara keduanya semakin luas, tetapi Imam Syafi’I hampir sama dengan aliran yang pertama.

Kerajaan Islam mulai luas dan berdirilah ibukota-ibukota yang besar yang terkenalsebagai gedung ilmu pengetahuan yang luas, seperti Kota Baghdad, Kufah, Basrah, Damsyik, Qurtubah dan lain-lain sebagainya. Pada sebagian kota-kota itulah Imam Syafi’I memulai pengembaraannya dalam mencari ilmu dan merintis penulisan karya-karyanya yang luar biasa. Maka fokus tulisan ini ingin mengeksplorasi riwayat hidup dan pemikiran Imam Asy-Syafi’i serta hukum Islam pada masanya. Pentingnya pembahasan ini didalami agar kita dapat mengenal lebih mengetahui tentang beliau itu sendiri sebagai seorang Nashir Al-Haq Wa As-Sunnah.

BAB II

RIWAYAT DAN PERJALANAN HIDUP IMAM ASY-SYAFI’I

 

A.    KETURUNAN DAN KELAHIRANNYA

Beliau bernama Muhammad dengan kun-yah(panggilan) Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad ibn Idris ibn al-Abbas ibn Utsman ibn Asy-Syafi’I ibn As-Saib ibn Ubaid ibn Abdu Yazid ibn Hasyim ibn Muthalib ibn Abdu Manaf ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn ibn Ka’ab ibn Lu’ai ibn Ghalib. Muthalib adalah saudara kandung Hasyim ibn Abdu Manaf. Sedangkan Hasyim adalah ayah Abdul Muthalib , kakek dari Nabi Muhammad saw. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi‘, kakek dari kakek beliau(yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau) menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar(yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi‘, sendiri termasuk sahabat kibar(senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraisy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.

Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi‘i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi‘i bukanlah asli keturunan Quraisy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’(dekat) saja.

Adapun ibu Imam Asy-Syafi’I adalah cucu perempuan dari saudara perempuan Fathimah binti Asad, ibu Imam Ali ibn Abi Thalib. Oleh karena itu, Imam Asy-Syafi’I mengatakan, “Ali ibn Abi Thalib adalah putra pamanku dan putra bibiku.” Dengan demikian, maka ibu imam syafi’I adalah cucu dari syadina ali ibn abu thalib, menantu nabi Muhammad saw. dan khalifah ke empat yang terkenal. Dalam sejarah ditemukan, bahwa Said ibn Yazid, kakek Imam Syafi’i yg kelima adalah sahabat nabi Muhammad saw.

Imam Syafi’I dilahirkan di Gazza pada bulan Rajab tahun 150H(767 M). Menurut suatu riwayat, pada tahun itu juga wafat Imam Abu Hanifah. Imam Syafi’I wafat di Mesir pada tahun 204H(819 M).

Ketika ayah dan ibu Imam Syafi’I pergi ke Syam dalam suatu urusan, lahirnya Syafi’I di Gazah, atau Asqalan. Ketika ayahnya meninggal, ia masih kecil. Ketika baru berusia dua tahun, Syafi’I kecil dibawa ibunya ke Mekkah. Ia dibesarkan ibunya dalam keadaan fakir

Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.

Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.

B.     SIFAT, PERTUMBUHAN DAN PENGEMBARAANNYA MENCARI ILMU

Sebagaimana disebutkan Abu Nu’aim dengan sanadnya dari Ibrahim bin Murad, dia berkata, “Imam Syafi’I itu berbadan tinggi, gagah, berdarah bangsawan dan berjiwa besar.” Sedang menurut Az-Za’farani mengatakan bahwa Imam Asy-Syafi’I adalah seorang yang berwajah simpatik dan ringan tangan.

Al Muzni berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang wajahnya lebih tampan melebihi Asy-Syafi’I. Ketika dia memegang jenggotnya, maka aku melihat bahwa tidak ada orang yang lebih bagus dari cara dia memegangnya.”

Dalam kitab yang lain mengatakan bahwa ketika usianya menginjak dewasa, ia bertubuh jangkung semampai, pandai menunggang kuda, berkulit keputih-putihan serupa dengan putera-putera bengawan Nil. Wajahnya berseri dihiasi senyum, berjanggut teratur rapih dan menggunakan bahan pewarna kecoklat-coklatan. Demikian juga dengan rambutnya yang menggunakan pewarna yang terbuat dari daun inai. Hal ini dikarenakan beliau mengikuti sunnah. Lembut tutur katanya, lembut suaranya, dan dari kedua matanya terpancar sinar yang menunjukan persahabatan yang tulus kepada orang yang memandangya. Padahal, kedua pelupuk matanya tampak letih akibat banyak begadang di malam hari, banyak merenung dan memeras otak, seolah-olah melayang bersama jiwa raganya dalam upaya meneliti dan menggali kebenaran Syariat. Ia selalu berpakain bersih yang terbuat dari kain kasar dan berjalan dengan tongkat yang agak besar, sehingga tampak sebagai seorang haji wara’(yang hidup menjauhkan diri dari kesenangan dan kenikmatan duniawi) atau sebagai pengembara.

Hidup Imam Asy-Syafi’i merupakan satu sisi pengembaraan yang tersusun di dalam bentuk yang sungguh menarik dan amat berkesan terhadap pembentukan kriteria ilmiah dan popularitinya. Dalam asuhan ibunya ia dibekali pendidikan, sehingga pada umur 7 tahun sudah dapat menghafal al-qur’an pada Ismail ibn Qastantin, qari’ kota Makkah. Sebuah riwayat mengatakan, bahwa Syafi’I pernah khatam Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.

Imam Syafi’I pergi dari Makkah menuju suatu dusun Bani Huzail untuk mempelajari bahasa arab karena disana terdapat pengajar-pengajar bahasa arab yang fasih dan asli. Imam Syafi’I tinggal di Huzail selama kurang lebih 10 tahun. Di sana ia belajar sastra arab, ia tergolong untuk memahami kandungan al-qur’an yang berbahasa arab yang fasih, asli dan murni. Imam Syafi’I menjadi orang terpecaya dalam soal syi’ir-syi’ir kaum Huzael.

Sebelum menekuni fiqih dan hadits, Imam Syafi’I tertarik pada puisi, syi’ir dan sajak bahasa arab. Ia belajar hadits dari Imam Malik di Madinah. Dalam usia 13 tahun ia telah dapat menghafal al-Muwaththa. Sebelumnya Imam Syafi’I pernah belajar hadits kepada Sufyan ibn Uyainah salah seorang Ahlu Hadits di Mekkah.

Menurut Khudhary Bek, sebelum imam syafi’I pergi ke Baghdad ia telah mempelajari hadits dari dua orang ahli hadits namanya, yaitu Sufyan ibn Uyainah di Mekkah dan Imam Malik di Madinah. Keduanya merupakan “Syaikh” Imam Syafi’I yang terbesar, sekalipun ada “syaikh” yang lainnya.

Menurut Ahmad Amin dalam Dhuha Al-Islam, Imam Syafi’I belajar fiqih dari Muslim ibn Khalid al-Zanjiy seorang Mufti Makkah. Kemudian ia ke Madinah dan menjadi murid Imam Malik serta mempelajari al-Muwaththa yang telah dihafalnya, sehingga Imam Malik melihat, bahwa al-Syafi’I termasuk orang yang sangat cerdas dan kuat ingatannya. Oleh sebab itu Imam Malik sangat menghormati dan dekat dengannya.

Menurut  Ibn Hajar Al-Asqalany, selain kepada Muslim ibn Khalid al-Zanjiy, Malik dan Sufyan ibn Uyainah, Imam Syafi’I belajar pula kepada Ibrahim ibn Sa’ad ibn Salim Alqadah, Al-Darawardiy, Abd Wahab al-Tsaqafiy, Ibn Ulayyah, Abu Damrah, Hatim ibn Ismail, Ibrahim ibn Muhammad ibn Khalid al-Jundiy, Umar ibn Muhammad ibn ‘Ali ibn Syafi’I, ‘Athaf ibn Khalid al-Mahzumiy, Hisyam ibn Yusuf al-Shan’any dan sejumlah ulama lainnya.

Imam Syafi’I belajar kepada Imam Malik di Madinah sampai Imam Malik meninggal. Setelah itu ia pergi merantau ke Yaman. Di Yaman, pernah mendapat tuduhan dari Khalifah Abbasiyah (penguasa waktu itu), bahwa Asy-Syafi’I telah membaiat ‘Alawy atau dituduh sebagai Syi’iy. Karena tuduhan itu, maka ia dihadapkan kepada Harun al-Rasyid membebaskannya dari tuduhan tersebut. Peristiwa itu terjadi tahun 184 H, ketika Syafi’I diperkirakan berusia 34 tahun.

Tahun 195 H, Asy-Syafi’I pergi ke Baghdad dan menetap disana selama 2 tahun. Setelah itu ia kembali lagi ke Makkah. Pada tahun 198 H. ia kembali lagi ke Baghdad dan menetap disana beberapa bulan, kemudian tahun 198 H. ia pergi ke Mesir dan menetap di Mesir sampai wafat pada tanggal 29 Rajab sesudah menunaikan shalat isya. Imam Syafi’I dimakamkan di suatu tempat di Qal’ah, yang bernama Mishru Alqadimah.

Ibnu Hajar mengatakan pula, bahwa ketika kepemimpinan fiqh di Madinah berpuncak pada Imam Malik, Imam Syafi’I pergi ke Madinah untuk belajar kepadanya, dan ketika kepemimpinan fiqh di Irak berpuncak pada Abu Hanifah dan Syaibany (salah seorang murid Abu Hanifah).oleh sebab itu Imam Syafi’I berhimpun pengetahuan fiqh Ashab al-Hadits (Imam Malik) dan fiqh Ashab al-Ra’yi (abu Hanifah). Bahwa Imam Syafi’I mempunyai pengetahuan yang sangat luas dalam bidang lughah dan adab, di samping pengetahuan hadits yang ia peroleh dari beberapa negeri. Sedangkan pengetahuannya dalam bidang fiqh meliputi fiqh Ashab al-ra’yi di Irak dan fiqh Ashab al-hadits di Hijaz.

C.    POLA PEMIKIRAN, METODE ISTIDLAL DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMAM SYAFI’I DALAM MENETAPKAN HUKUM ISLAM

Secara umum sebagai produk sosial budaya semasa dan setempat, ilmu selalu terkait dengan kondisi masyarakat, ilmu hukum tidak terkecuali. Hukum mengatur perilaku masyarakat, tetapi kebiasaan yang berlaku turut pula menjadi sumber hukum itu sendiri. Dalam hukum Islam, ketentuan hukum yang terkait dengan, atau diatur berdasarkan urf cukup besar jumlahnya. Pada satu sisi, fiqh adalah penjabaran dari nash-nash al Qur’an dan Hadits. Jadi sepanjang nash-nash itu tidak berubah, tentu fiqhnya pun akan tetap sama. Akan tetapi, pada sisi lain fiqh merupakan hasil ijtihad ulama yang senantiasa berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungannya. Oleh karena itu besar kemungkinan fiqh terpengaruh oleh lingkungan mujtahid itu sendiri.

Imam Syafi’I sebagaimana latar belakang pendidikan dan pemikirannya, termasuk salah seorang jajaran Imam penganut Ahlu As-Sunnah wa al-Jama’ah, yang dalam cabang Furuiyyahnya berpihak pada dua kelompok, yaitu ahlu Al-Hadis dan Ahlu Ar-Ra’yi (sintesa pemikiran tengah). Rihalah Fi Thalabil Ilmi, demikian beliau dijuluki berkat pengembaraan yang dilakukannya ke negeri Hijaz untuk menuntut ilmu kepada Imam Malik, ke Irak menuntut ilmu kepada Muhammad Ibnu Al-Hasan (seorang murid Imam Abu Hanifah), bekerja di Yaman dan beberapa kali datang ke Baghdad, sebelum akhirnya menetap di Mesir. Dengan demikian ia cukup mengenal berbagai aliran dan mazhab yang ada di kota-kota itu. Dari sinilah kemudian ia mendapatkan dan membekali dirinya sebagai seorang Ahlu Al-Hadits, tetapi dalam bidang Fiqh, ia terpengaruh oleh pemikiran kelompok Ahlu Ar-Ra’yi dengan melihat kepada metode penetapan hukum yang beliau pakai.

Pengetahuanya seputar sosial kemasyarakatan sangatlah luas sebab beliau menyaksikan secara langsung kehidupan masyarakat, baik masyarakat desa dengan pemikiran yang relatif sederhana ataupun pemikiran masysrakat kota yang sudah kompleks, seperti Irak, Mesir hingga kehidupan para zuhud pun pernah ia geluti.

Berangkat dari keberanekaragaman itulah, ia mendapatkan bekal yang cukup dalam memutuskan ijtihadnya mengenai masalah-masalah hukum, sehingga dalam istinbatnya sangat mempengaruhi sistem dalam madzhabnya.

Dalam bidang hadits, beliau sebagai peletak petama tentang kaidah periwayatan Al-Hadits, bahkan beliaulah satu-satunya orang yang bersikeras mempertahankan posisi hadits (melebihi gurunya, Imam Malik bin Anas). Bahkan tak jarang ditemukan pandangan-pandangan beliau yang berbeda dengan gurunya, Al-Hadits yang sanadnya shahih dan muttasil, menurutnya wajib diamalkan, tanpa harus dikaitkan dengan amalan Ahlu Madinah sebagaimana yang disyaratkan oleh Imam Abu Hanifah. Dari sinilah kemudian ia juga dikenal sebagai Nashir As-Sunnah.

Di samping itu, Imam Syafi’I memiliki dua pandangan ijtihad yang dikenal dengan sebutan Qaul Qadim yang tertuang dalam kitabnya Al-Hujjah yang ditulis di Irak dan Qaul Jadid yang tertuang dalam kitab Al-Umm yang dikarang di Mesir. Terwujudnya dua pandangan ini, diperkirakan sebagai perwujudan dari adanya situasi yang mempengaruhi terhadap ijtihadnya. Sebab di Irak ia melakukan pemaduan terhadap beberapa kitab yang telah beliau pelajari dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang telah beliau miliki berdasarkan pada teori Ahlu Al-Hadist.

Perlu diketahui bahwa Qaul Qadim Imam Syafi’I merupakan pandangan-pandangannya yang dihasilkan dari perpaduan antara madzhab Irak dan pendapat Ahlu al-Hadits, lalu beliau pergi ke Makkah dan tinggal disana untuk beberapa lama. Di Makkah inilah beliau bertemu dan berdiskusi banyak dengan murid Imam Abu Hanifah, Muhammad Ibn Hasan, lalu akhirnya beliau pun kembali ke Irak untuk mendiktekan Qaul Qadimnya kepada muridnya.

Dengan demikian maka Qaul Qadim Imam Syafi’I merupakan hasil pemikirannya dengan memadukan antara Fiqh Ahlu Al-Hadis yang bersifat tradisional, sehingga pola pemikiran semacam inilah oleh para ulama dinilai lebih sesuai dengan pola pemikiran para ulama yang datang dari berbagai Negara Islam ke Makkah dan akhirnya juga mudah tersebar ke berbagai Negara.

Ada beberapa ahli mengemukakan bahwa perbedaan lingkungan sosial kultural (Baghdad-Mesir) adalah sebagai faktor penyebab berubahnya fatwa Asy Syafi’i dari Qaul Qadim ke Qaul Jadid. Hasil observasi atas masyarakat Mesir berperan penting dalam peninjauan dan penyesuaian-penyesuaian yang melahirkan untuk Qaul Jadidnya. Menurut riwayat Imam Nawawi, Imam Syafi’i sendiri pernah menyatakan bahwa Qaul Qadim tidak boleh diriwayatkan lagi karena ia telah rujuk dari Qaul itu. Dengan demikian untuk masa selanjutnya, Qaul Jadidlah yang dianggap sebagai mazhab Asy Syafi’i.

Dari pembahasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pokok-pokok pikiran beliau dalam mengistinbathkan hukum adalah:

a)      Al-Qur’an dan al-Sunnah

Imam Syafi’i memandang Al-Qur’an dan Sunnah berada dalam satu martabat. Beliau menempatkan Al-Sunnah sejajar dengan Al-Qur’an, karena menurut beliau, Sunnah itu menjelaskan Al-Qur’an, kecuali Hadits Ahad tidak sama nilainya dengan Al-Qur’an dan Hadits Mutawatir. Disamping itu, karena Al-Qur’an dan Sunnah keduanya adalah wahyu, meskipun kekuatan Sunnah secara terpisah tidak sekuat seperti Al-Qur’an.

Dalam pelaksanaannya, Imam Syafi’i menempuh cara, bahwa apabila di dalam Al-Qur’an sudah tidak ditemukan dalil yang dicari, ia menggunakan Hadits Mutawatir. Jika tidak ditemukan dalam Hadits Mutawatir, ia menggunakan Hadits Ahad. Jika tidak ditemukan dalil yang dicari dalam kesemuanya itu, maka dicoba untuk menetapkan hukum berdasarkan Zohir Al-Qur’an atau Sunnah secara berturut.

Imam Syafi’i walaupun berhujjah dengan hadis ahad, namun beliau tidak menempatkannya sejajar dengan Al-Qur’an dan Hadits Mutawatir, karena hanya Al-Qur’an dan Hadits Mutawatir sejalah yang Qath’iy Tsubutnya, yang dikafirkan orang yang mengingkarinya dan disuruh bertaubat.

Imam Syafi’i dalam menerima Hadits Ahad mensyaratkan sebagai berikut:

  1. Perawinya terpercaya. Ia tidak menerima hadis dari orang yang tidak dipercaya.
  2. Perawinya berakal, memahami apa yang diriwayatkannya.
  3. Perawinya dhabith (kuat ingatannya)
  4. Perawinya benar-benar mendengarkan sendiri hadis itu dari orang yang menyampaikan kepadanya.
  5. Perawi itu tidak menyalahi para ahli ilmu yang juga meriwayatkan hadis itu.

b)      Ijma

Imam Syafi’i mengatakan bahwa ijma adalah hujjah dan ia menempatkan ijma ini sesudah Al-Qur’an dan Al-Sunnah sebelum Qiyas. Imam Syafi’i menerima ijma sebagai hujjah dalam masalah-masalah yang tidak diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Ijma menurut pendapat Imam Syafi’i adalah ijma ulama pada suatu masa di seluruh dunia islam, bukan ijma suatu negeri saja dan bukan pula ijma kaum tertentu saja. Namun Imam Syafi’i mengakui, bahwa ijma sahabat merupakan ijma yang paling kuat.

Ijma yang dipakai Imam Syafi’i sebagai dalil hukum itu adalah ijma yang disandarkan kepada nash atau ada landasan riwayat dari Rasalullah saw. Secara tegas ia mengatakan, bahwa ijma yang berstatus dalil hukum itu adalah ijma sahabat.

Imam Syafi’i hanya mengambil ijma sharih sebagai dalil hukum dan menolak ijma sukuti menjadi dalil hukum.

c)      Qiyas

Imam Syafi’i menjadikan qiyas sebagai hujjah dan dalil keempat setelah Al-Qur’an, Sunnah, Ijma, dalam menetapkan hukum.

Imam Syafi’i adalah mujtahid pertama yang membicarakan qiyas dengan patokan kaidahnya dan menjelaskan asas-asasnya. Sedangkan mujtahid sebelumnya sekalipun telah menggunakan qiyas dalam berijtihad, namun belum membuat rumusan patokan kaidah dan asas-asasnya, bahkan dalam praktek ijtihad secara umum belum mempunyai patokan yang jelas, sehingga sulit diketahui mana hasil ijtihad yang benar dan mana yang keliru.

Disinilah Imam Syafi’i tampil ke depan memilih metode qiyas serta memberikan kerangka teoritas dan metodologinya dalam bentuk kaidah rasional namun tetap praktis. Untuk itu Imam Syafi’i pantas di akui dengan penuh penghargaan sebagai peletak pertama metodologi pemahaman hukum dalam islam sebagai satu disiplin ilmu, sehingga dapat dipelajari dan diajarkan.

D.    KARYA-KARYA IMAM SYAFI’I DAN PENYEBARAN SERTA PERKEMBANGAN MADZHABNYA

Imam Asy-Syafi’I adalah orang pertama kali yang berkarya dalam bidang Ushul Fiqh dan Ahkam Al-Quran. Para ulama dan cendikia terkemuka pada mengkaji karya-karya Imam Asy-Syafi’I dan mengambil manfaat darinya.

Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Menurut Abu Bakar Al-Baihaqy dalam kitab Ahkam Al-Qur’an, bahwa karya Imam Syafi’i cukup banyak, baik dalam bentuk risalah maupun dalam bentuk kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan Al-Qadhi Imam Abu Hasan ibn Muhammad Al-Maruzy mengatakan bahwa Imam Syafi’i menyusun 113 buah kitab tentang tafsir, fiqih, adab, dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat.

Kitab-kitab karya Imam Syafi’i dibagi oleh ahli sejarah menjadi dua bagian:

  • Kitab yang ditulis Imam Syafi’i sendiri, seperti al-umm dan al-Risalah (riwayat dari muridnya yang bernama al-Buwaithy dilanjutkan oleh muridnya oleh muridnya yang bernama Rabi ibn Sulaiman).

Kitab al-umm berisi masalah-masalah fiqih yang dibahas berdasarkan pokok-pokok pikiran Imam Syafi’i dalam al-Risalah.

Selanjutnya kitab al-Risalah adalah kitab yang pertama dikarang oleh Imam Syafi’i pada usia yang muda belia. Kitab ini ditulis atas permintaan Abd al-Rahman ibn Mahdy di Makkah, karena Abd Rahman ibn Mahdy meminta kepada beliau agar menuliskan suatu kitab yang mencakup ilmu tentang arti al-Qur’an, hal ihwal yang ada didalam al-Qur’an, nash dan mansukh serta hadis Nabi.

  • Kitab yang ditulis oleh murid-muridnya, seperti Mukhtashar oleh al-Muzamy dan Mukhtashar oleh al-Buwaithy (keduanya merupakan ikhtisar dari kitab Imam Syafi’i Al-Imla’ wa al-Amly)

Kitab-kitab Imam Syafi’i, baik yang ditulisnya sendiri, didiktekan kepada murid-muridnya, maupun dinisbahkan kepadanya, antara lain sebagai berikut:

  1. Kitab al-Risalah, tentang Ushul fiqh (riwayat Rabi’)
  2. Kitab al Umm, sebuah kitab fiqh yang di dalamnya dihubungkan pula sejumlah kitabnya.
  3. Kitab al-Musnad, berisi hadis-hadis yang terdapat dalam kitab al-Umm yang dilengkapi dengan sanad-sanadnya.
  4. Al-Imla
  5. Al-Amaliy
  6. Harmalah (didiktekan kepada muridnya yang bernama Harmalah ibn Yahya).
  7. Mukhtashar al-Muzaniy (dinisbahkan kepada Imam Syafi’i)
  8. Mukhtashar al-Buwaithiy (dinisbahkan kepada Imam Syafi’i)
  9. Kitab Ikhtilaf al-Hadis (penjelasan Imam Syafi’i tentang hadis-hadis Nabi Saw).

Kitab-kitab Imam Syafi’i dikutip dan dikembangkan para muridnya yang tersebar di Makkah, di Irak, di Mesir, dan lain-lain. Kitab Al-Risalah merupakan merupakan kitab yang memuat Ushul Fiqh. Dari kitab Al-Umm dapat diketahui, bahwa setiap hukum Far’i yang dikemukakannya, tidak lepas dari penerapan Ushul Fiqh.

Penyebaran Mazhab Syafi’i ini nantara lain di Irak, lalu berkembang dan tersiar ke Khurasan, Pakistan, Syam, Yaman, Persia, Hijaz, India, daerah-daerah Afrika dan Andalusia sesudah tahun 300 H. Kemudian mazhab Syafi’i ini tersiar dan berkembang bukan hanya di Afrika, tetapi ke seluruh pelosok negara-negara islam, baik di Barat, maupun Timur, yang dibawa oleh para muridnya dan pengikutnya dari satu negeri ke negeri yang lain, termasuk ke Indonesia. Kalau kita melihat praktik ibadah dan muamalah umat islam di Indonesia, pada umumnya mengikuti mazhab Syafi’i. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor:

  1. Setelah adanya hubungan Indonesia dengan Makkah dan di antara kaum Muslimin Indonesia yang menunaikan ibadah haji, ada yang bermukim di sana dengan maksud belajar ilmu agama. Guru-guru mereka adalah ulama-ulama yang bermazhab Syafi’i dan setelah kembali ke Indonesia mereka menyebarkannya.
  2. Hijrahnya kaum Muslimin dari Hadhramaut ke Indonesia adalah merupakan sebab yang penting pula bagi tersiarnya mazhab Syafi’i di Indonesia. Ulama dari Hadhramaut adalah bermazhab Syafi’i.
  3. Pemerintah kerajaan Islam di Indonesia, selama zaman Islam mengesahkan dan menetapkan mazhab syafi’i menjadi halauan hukum di Indonesia.
  4. Para pegawai jawatan dahulu, hanya terdiri dari ulama mazhab Syafi’i karena belum ada yang lainnya.

Menurut Ibn As-Subki bahwa Mazhab Asy-Syafi’I telah berkembang dan menjalar pengaruhnya diberbagai tempat, di kota dan di desa, di seluruh negara Islam. Pengikut-pengikutnya terdapat di Iraq dan kawasan-kawasan sekitarnya, di Naisabur, Khurasan, Muru, Syiria, Mesir, Yaman, Hijaz, Iran dan di negara-negara timur lainnya hingga ke India dan sempai negara China. Penyebaran yang sebegitu meluas setidak-tidaknya membayangkan kepada kita sejauh mana kewibawaan pribadi Imam Asy-Syafi’i sebagai seorang tokoh ulama dan keunggulan Mazhabnya sebagai salah satu aliran fiqih dari yang empat.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

Imam Syafi’I merupakan salah satu dari keempat imam madzhab yang termasyhur. Beliau adalah imam yang memiliki karakteristik akhlak yang mulia dan memiliki kecerdasan yang luar biasa sehingga banyak gelar dari para ulama lain untuknya.

Kiprah Imam Syafi’I yang cemerlang berakhir dengan wafatnya tetapi ilmunya takkan pernah habis dimakan waktu. Cinta manusia terhadanya, ilmu dan karya-karyanya masih tetap memenuhi bumi sampai sekarang. Tidak satu pun dijumpai ulama besar kecuali berhutang kepada Imam Syafi’i.

Demikianlah yang dapat penulis paparkan sedikit tentang biografi Imam Asy-Syafi’I. Setelah mengetahuinya, moga menjadikan ghirrah kepada kita sebagai Thalabul Ilmi untuk dijadikan contoh dalam hidup kita dalam mensejahterakan seluruh ummat Islam, terkhusus bagi kesejahteraan Negara Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Asy-Syurbasi, Ahmad. Sejarah dan Biografi EMPAT IMAM MADZHAB. Jakarta: Amzah, 2008.

Farid, Syaikh Ahmad. 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008.

Nasution, Goloman. “Perkembangan Pemikiran Hukum Islam Dalam Mazhab Asy-Syafi’iy.” Makalah Mata Kuliah Fiqh Fakultas Syari’ah IAIN Raden Fatah Palembang, 2008.

Sutrisno, Imam. “Riwayat Hidup Imam Syafi’I”. Artikel diakses pada 19 Februari 2011 dari http://islam.blogsome.com.

Syarifudin, Arif. “Imam Syafi’I Sang Pembela Sunnah dan Hadist Nabi.” Artikel diakses pada 19 Februari 2011 dari http://majalahfatawa.muslim.or.id.

Yanggo, Huzaemah Tahido. Pengantar Perbandingan Madzhab. Jakarta: Logos, 1997.

By rahmatyudistiawan

One comment on “Kisah Kehidupan Luhur “Sang Inspirator Islam”(Imam Syafi’i) oleh Rahmat Yudistiawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s