Teori Dasar Penelitian Agama: Penelitian Agama di Indonesia Oleh A. Mukti Ali

A. LATAR BELAKANG

Penelitian agama menempatkan diri sebagai suatu kajian yang menempatkan agama sebagai sasaran atau obyek penelitian. Secara metodologis berarti agama haruslah dijadikan sebagai suatu yang riil betapapun mungkin terasa agama itu sesuatu yang abstrak. Dari sudut ini mungkin dapat dibedakan ke dalam tiga kategori agama sebagai fenomena yang menjadi subyek materi penelitian, yaitu agama sebagai doktrin, dinamika dan struktur masyarakat yang dibentuk oleh agama dan sikap masyarakat pemeluk terhadap doktrin. [1]

Pada tahun 1975, periode pemerintahan Orde Baru (masa-masa pembangunan atau dikenal dengan kabinet gotong royong) mencanangkan dan melaksanakan pembangunan secara bertahap melalui Repelita, dalam menyusun kebijaksanaan dan rencana pembangunan yang selalu didasarkan pada data dan informasi empiris yang diperoleh dari hasil-hasil penelitian dan pengembangan. Dengan demikian, suatu rencana pembangunan diharapkan dan diselenggarakan atas dasar kenyataan obyektif serta prinsip-prinsip ilmiah yang lebih bisa dipertanggungjawabkan dan bukan hanya didasarkan kepada cita-cita atau keinginan semata.[2]

Selaras dengan pemikiran tersebut, di mana kebutuhan akan operasional penelitian dirasakan sangat mendesak dan perlu dikembangkan dalam setiap sektor pembangunan, maka salah satu usaha pemerintah pada saat itu dalam menopang kebutuhan tersebut dibentuklah Unit Kerja yang bergerak dalam bidang penelitian dan pengembangan pada setiap departemen, salah satunya departemen agama.[3]

Berdasarkan keputusan Presiden No. 44 dan 45 Tahun 1974 dibentuklah Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Agama pada tahun 1975, masa kepemimpinan Mukti Ali. Yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pembinaan semua unit-unit penelitian dan pengembangan, baik yang dilakukan oleh unsur-unsur lain dalam lingkungan Departemen Agama. Dalam menyelenggarakan tugasnya Badan Litbang Agama dalam keseluruhan sistem kerja Departemen Agama adalah membantu Menteri Agama memberikan masukan (input) untuk menyusun/pengambilan kebijaksanaan, pengembangan konsepsi, perencanaan jangka panjang serta menyempurnakan segi-segi kelemahan kebijaksanaan di bidang keagamaan yang pernah dilakukan oleh Departemen Agama. Dan salah satu proyek besar yang hingga kini terus dijalankan oleh Departemen Agama (Kementrian Agama saat ini) adalah Penelitian Keagamaan/Agama.[4]

Penelitian agama merupakan wadah Departemen Agama dalam menyelesaikan problem keagamaan di Indonesia, sebab tugas pokoknya sehari-hari erat kaitannya atau berhubungan dengan masalah penelitian dan pengembangan, khususnya pengembangan dan penelitian agama. Pekerjaan yang nantinya akan dilakukan diarahkan kepada penelitian dan pengembangan konsepsi-konsepsi mengenai gejala keagamaan. Yang nantinya dibutuhkan sebagai masukan pemikiran untuk merumuskan bahan penyusunan kebijaksanaan, pengembangan konsepsi dan perencanaan jangka panjang bagi Kementerian Agama. Hal tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Agama No. 18 tahun 1975 yang dalam penjelasannya merumuskan tentang kegiatan-kegiatan Balitbang Agama sebagai suatu satuan kerja dari suatu departemen/eksekutif. Balitbang Agama diarahkan untuk membantu Departemen Agama dalam merumuskan kebijakan, pengambilan keputusan, dan perencanaan perspektif jangka panjang. Dalam implementasinya, mengadakan telaah-telaah mengenai kasus-kasus kehidupan beragama, lektur keagamaan, dan pendidikan agama, kemudian disampaikan kepada pimpinan sebagai telaahan staf, yang keputusan selanjutnya terserah kepada pertimbangan dan keputusan pimpinan.[5]

Karena pentingnya kegiatan ini dalam membantu tugas menteri dalam penyelesaian urusan keagamaan. Maka kiranya kesimpulan dan rekomendasi penelitian dan pengembangan dapat dimanfaatkan sepenuhnya dan kiranya dapat pula memperoleh tanggapan, kritik dan saran untuk bahan menentukan sasaran-sasaran penelitian dan pengembangan. Berarti berdampak untuk jangka panjang, kepentingan tersebut dapat diselenggarakan bila ditekankan pada penggalian lebih dalam hal-hal yang menyangkut kehidupan keagamaan, khususnya agama dan perubahan sosial.[6] Upaya tersebut menjadi percuma bila kita hanya mengandalkan logika, penalaran deduktif, apalagi spekulasi teoritis, tetapi usaha yang lebih berdampak dan efektif yang dapat menyelesaikan masalah umat secara empiris (problem solving with empirical system).

Yang menjadi kendala terkait orientasi pada tata kerja Balitbang Agama dalam melaksanakan tugasnya untuk melaksanakan penelitian agama, yaitu berkenaan dengan alat bantu (tools/metodologi) yang digunakan. Sebab selama pelaksanaan, konsep dan dasar teori belum terjelaskan secara sistematis, walaupun tidak menjadi kendala yang memberatkan bagi para peneliti di bidangnya (khususnya para peneliti agama dan sosial)[7]. Namun kekhawatiran ini nampak ketika A. Mukti Ali mengakui bahwa pengetahuan tentang agama Islam di Indonesia tidak mengalami perkembangan yang berarti dibanding dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan bangsa ini (alias jumud), baik yang menyangkut sistem budayanya maupun sistem sosial. Penelitian keagamaan belum menampakkan wajahnya di Indonesia. Hal ini disebabkan karena bidang yang menjadi garapan dalam penelitian agama berbenturan dengan yang dikaji dalam penelitian ilmu-ilmu sosial. Dan ini nampak ketika A. Mukti Ali sendiri mengungkapkan kebingungannya tentang teori dasar penelitian agama.[8]

Itulah penjelasan sekilas tentang awal mulai dicanangkannya penelitian agama. Sekarang yang menjadi masalah dari penjelasan di atas adalah, apakah penelitian agama telah terkonsep secara matang oleh Departemen Agama yang pada saat itu dipimpin oleh Mukti Ali? Maka dari itu, untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut, Mukti Ali selaku Menteri Agama yang bertanggung jawab atas inisiasi dari proyek penelitian agama Departemen Agama tentu pernah menyampaikan unek-uneknya menyangkut hal tersebut. Maka yang menjadi pokok masalah selanjutnya, bagaimanakah bentuk penelitian agama dalam benak Mukti Ali? Dan tawaran apa yang diberikan oleh Mukti Ali dalam menjelaskan konsep penelitian agama? pertanyaan-pertanyaan mendasar inilah yang perlu kita telaah mengenai teori dasar penelitian agama dan itu tertuang dalam kumpulan tulisan yang disusun oleh Mulyanto Sumardi mengenai penelitian agama di Indonesia oleh A. Mukti Ali. Sehingga judul yang tepat untuk makalah ini membahas tentang “Teori Dasar Penelitian Agama: Penelitian Agama di Indonesia oleh A. Mukti Ali”.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan penjelasan latar belakang masalah di atas, maka penulis dapat mengambil beberapa rumusan masalah, yaitu:

  1. Bagaimana bentuk penelitian agama yang digambarkan oleh Mukti Ali dalam tulisannya tersebut?
  2. Tawaran apa yang diberikan oleh Mukti Ali ketika mengemukakan konsep penelitian agama?

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Tujuan dari telaah pemikiran A. Mukti Ali dalam tulisannya yang membahas tentang Penelitian Agama di Indonesia, untuk mengetahui secara langsung pemikiran Mukti Ali selaku Menteri Agama yang melahirkan dan membentuk Badan Penelitian dan Pengembangan Agama di Departemen Agama. Sejauh mana konsep yang dibuat, dan tawaran apa yang disuguhkan menyangkut teori dasar penelitian agama.

Manfaatnya yang bisa kita dapatkan, sebagai pengetahuan atas teori dasar dan arah tujuan dari penelitian agama yang dipahami oleh A. Mukti Ali dalam paparannya yang terdapat pada kumpulan tulisan oleh Mulyanto Sumardi tentang penelitian agama di Indonesia. Kita pun juga dapat mengaplikasikan ide yang dibuat olehnya dalam lingkup penelitian agama di Indonesia.

D. REVIEW STUDI TERDAHULU

  1. Imam Suprayogo dan Tobroni, dalam bukunya Metodologi Penelitian Sosial-Agama, buku ini membahas tentang penelitian agama yang mengarah kepada penelitian sosial. Buku ini bisa dikatakan melengkapi dan menjelaskan lebih lanjut alur penelitian agama secara lebih gamblang. Sebab menurut penulis buku ini, penelitian agama tidak dapat dipisahkan dari penelitian sosial. Hal ini terlihat pada halaman 17-18 di mana penulis buku ini menyatakan bahwa masalah agama adalah masalah yang senantiasa menyertai kehidupan manusia sepanjang sejarahnya sebagaimana masalah sosial lainnya, seperti masalah ekonomi dan politik. Selain itu beliau juga menyinggung bahwa keberagamaan menjadi bagian dari kebudayaan manusia yang telah dikembangkan sedemikian rupa, baik berupa ritus, pranata sosial, maupun perilaku dalam berbagai dimensinya yang itu semua terdapat dalam penelitian ilmu pengetahuan sosial. Dalam rangka mengkaji perilaku manusia, maka tak terkecuali penelitian agama yang juga menjadikan objek kajiannya salah satunya adalah perilaku keberagamaan manusia. Karena itu, menurut penulis buku ini sebuah penelitian disebut sebagai penelitian agama atau penelitian sosial didasarkan pada objek yang dikaji, bukan karena metodologinya. Objek studilah yang menentukan metode, bukan sebaliknya. Walaupun pembahasan dalam buku ini lebih kepada penjabaran tentang metodologi dalam melaksanakan penelitian. Mulai dari persiapan penelitian sampai kepada finishing
  2. Jamaluddin Rakhmat, dengan tema Metodologi Penelitian Agama dalam kumpulan tulisan yang berjudul Metodologi Penelitian Agama; Suatu Pengantar oleh Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim. Tulisan ini menceritakan tentang keberagamaan muncul dalam lima dimensi,yakni ideologis, intelektual, eksperiential, ritualistik, dan konsekuensial. Dimensi ideologis berkenaan dengan seperangkat kepercayaan; Dimensi intelektual, pada dimensi ini penelitian dapat diarahkan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat melek agama (relogious literacy) para pengikut agama; Dimensi ekperiensial, yakni keterlibatan emosional dan sentimental pada pelaksanaan agama; Dimensi ritualistik merujuk pada ritus-ritus keagamaan yang dianjurkan oleh agama dan atau dilaksanakan oleh pengikutnya; Dimensi konsekuensial, merupakan segala implikasi sosial dari pelaksanaan ajaran agama. Penerapan atau metodologi penelitian agama yang Rakhmat tawarkan dalam tulisannya ini dapat dilakukan melalui 3 paradigma, ilmiah, akliah (logika), dan irfaniah (mistikal). Menurut ilmu tasawuf, langkah –langkah penelitian irfaniah adalah Takhliyah (peneliti mengosongkan perhatiannya dari makhluk dan memusatkannya kepada Sang Pencipta, Tahliyah (peneliti memperbanyak amal shaleh dan melazimkan hubungan dengan al-Khaliq melalui ritus-ritus tertentu, Tajliyah (peneliti menemukan jawaban batiniyah terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya).

Dari kedua studi review di atas, sebenarnya menurut penulis saling melengkapi sisi kekurangan yang belum terungkap dan terpaparkan secara jelas dalam konsep penelitian agama. Sehingga antara yang ditulis oleh A. Mukti Ali dengan penulis-penulis di atas, menjadi referensi pelengkap teori dasar penelitian agama di Indonesia beserta metodenya.

E. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang diterapkan oleh A. Mukti Ali adalah dengan melihat secara langsung (empiris) berbagai terapan metode para peneliti di Indonesia. Baik itu para peneliti di bidang agama dengan metodenya yang berkaitan dengan keagamaan maupun peneliti di bidang sosial yang memiliki metode atau alat penelitiannya sendiri di bidang sosial. Selain itu juga, Mukti Ali melihat berbagai pengalaman agama (religious experiance research) dari refleksi keagamaan masyarakat Indonesia. Baik menyangkut tentang tradisi keagamaan, perilaku keagamaan sampai wacana-wacana keagamaan.

F. PEMBAHASAN

Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan inti, ada satu hal yang perlu disampaikan menurut penulis, sebab kebingungan akan epistemologi penelitian agama ternyata tidak hanya dirasakan bagi penulis, namun juga banyak akademisi yang bergelut di bidang keagamaan. Dalam kata pengantar yang ditulis oleh Taufik Abdullah dalam bukunya Metodologi Penelitian Agama disebutkan bahwa ketika “penelitian agama” baru saja mulai digalakkan, ada seorang ulama yang berkata dengan nada mengejek, “Baru kali ini saya mendengar agama diteliti.” Hal ini senada dengan apa yang pernah penulis sampaikan sebelum revisian makalah ini dibuat, di mana penulis bertanya, “apakah itu penelitian agama, mengapa agama perlu untuk kita teliti, dan apa alasannya.” Itu semua merupakan respon yang secara tiba-tiba ketika mendengar nomenklatur yang dirasa asing di telinga kita.[9] Namun ada hal penting yang perlu dikemukakan dari kejadian ini, bahwa tanpa adanya kejelasan tentang konsep “penelitian agama”, maka akan terjadi miss komunikasi.

Satu hal yang menjadi poin pembahasan yang disampaikan oleh Taufik Abdullah dalam tulisannya mengenai ekskursi di wilayah metodologi penelitian agama dan sosial bahwa Agama memainkan peranan penting dalam realitas dan dinamika sosial. Penelitian agama menjadi gejala sosial kultural (bukan sebagai suatu ajaran) sebaiknya bertolak dari kesadaran metodologis akan adanya hubungan timbal balik yang dinamis -segi tiga antara pola perilaku, struktur realitas dan dunia ide atau nilai. Meskipun ketiganya saling mempengaruhi secara metodologisnya akan tetapi memiliki kecenderungan untuk memperlakukan struktur realitas dan dunia ide yang ternukil dalam teks sebagai pemberi keterangan terhadap perilaku. Penelitian memang memiliki karakter yang refleksif yang hasilnya diharapkan memberi pengaruh terhadap subjek matter (sasaran perhatian akademis).[10]

Mukti Ali melalui buah tangannya yang terdapat dalam kumpulan artikel yang disusun oleh Mulyanto Sumardi, menulis tentang penelitian agama di Indonesia. Di situ diuraikan mulai dari membahas gejala yang nampak dari kecenderungan kaum intelektual di Indonesia yang ikut membahas masalah-masalah agama. Sehingga terbagilah dua kalangan ahli yang selama ini berkecimpung dalam dunia penelitian, yaitu kalangan ahli di bidang ilmu sosial dan kalangan ahli di bidang ilmu agama. Mengapa demikian? Sebab di antara mereka saling membutuhkan, satu sisi ahli di bidang sosial memang sering berkutat kepada kajian tentang masyarakat, sedangkan kalangan ahli di bidang agama tahu bahwa agama adalah sebuah keyakinan yang dianut oleh masyarakat. Oleh karena itu, membicarakan masyarakat tidak bisa terlepas kepada agamanya, maupun membicarakan soal agama tidak bisa terlepas kepada masyarakat sebagai aplikator ajaran agamanya di dalam kehidupan sosial. Lalu apakah sudah barang tentu teori-teori dalam ilmu sosial menjadi teori dasar penelitian agama? di sini penulis belum dapat memastikannya, dan hal inilah yang akan kita bahas pada kesempatan ini.

Kemudian, beliau pula membahas tentang pentingnya penelitian agama di Indonesia[11] bagi perkembangan ilmu pengetahuan maupun perencanaan pembangunan. Secara menyeluruh dapat dipahami bahwa agama dan masyarakat saling mempengaruhi, seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Bahwa agama mempengaruhi jalannya masyarakat. Demikian juga pertumbuhan masyarakat itu mempengaruhi pemikiran terhadap agama. Dan ini kembali kepada penjelasan sebelumnya bahwa kalangan ahli di bidang sosial dan ahli di bidang agama dapat ditumbuhkan rasa kesadaran saling perlu memerlukan dan saling membutuhkan demi perkembangan keilmuan maupun pembangunan.[12]

Masuk ke dalam pembahasan tentang penelitian agama, selanjutnya Mukti Ali membahas tentang pengalaman umat beragama sebagai hal yang diamati dalam penelitian agama. Hal ini disebabkan perkembangan ilmu-ilmu (eksakta) serta gejala-gejala sosial yang berdampak kepada pengalaman konkret umat beragama. Beliau memastikan bahwasanya penelitian agama tentu ada sangkut pautnya dengan pengalaman umat beragama. Umat beragama yang memperkembangkan hubungannya dengan Allah, hidupnya di tengah-tengah pertemuan dan pergaulan dengan manusia-manusia dalam dunia. Penelitian itu berhubungan dengan ungkapan umat Allah sebagai umat Allah dan pengungkapan umat Allah yang menjalankan tugasnya sebagai tugas anggota masyarakat di tengah dunia. Jelasnya bahwa penelitian tersebut berpijak pada situasi konkret, pada pengalaman umat manusia.

Dalam pembahasan tersebut terungkap bahwa Mukti Ali sebenarnya merasa bingung apa yang menjadi alat ukur atau teori yang digunakan dalam penelitian agama. Dalam tulisannya tersebut beliau sendiri bertanya apakah penelitian agama akan meminjam hasil-hasil pengamatan dan penelitian ilmu-ilmu sosial? Ataukah penelitian agama seharusnya mempunyai alat-alatnya sendiri untuk menghadapi dan meneliti situasi konkret itu?[13] Di sini terlihat betapa belum terkonsep secara matang bidang keilmuan yang satu ini dari segi teoritis dan epistemologis, apalagi untuk mempraktekkan bidang ilmu ini dalam ranah yang lebih luas, walau kita tahu sudah sangat banyak para akademisi yang menulis tentang metodologi penelitian agama.

Namun, bila mendalami maksud A. Mukti Ali dalam memahami penelitian agama, bisa dikatakan sejalan dengan apa yang ditulis oleh M. Amin Abdullah melalui pengantarnya dalam buku metodologi studi agama bahwa diskursus keagamaan kontemporer dijelaskan “agama” ternyata mempunyai banyak wajah (Multifaces) dan bukan lagi seperti dulu orang memahaminya, yakni hanya semata-mata terkait soal ketuhanan, kepercayaan, keimanan, kredo, pedoman hidup dan seterusnya. Selain ciri dan sifat konvensioanalnya yang memang mengasumsikan bahwa persoalan agama hanyalah semata-mata persoalan ketuhanan, agama ternyata juga terkait erat dengan persoalan-persoalan historis kultural yang juga merupakan keniscayaan manusiawi belaka (sosial).

Dari studi historis-empiris terhadap fenomena keagamaan diperoleh masukan bahwa agama sesungguhnya juga sarat dengan berbagai “kepentingan” yang menempel dalam ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri. Campur aduk dan berkait kelindannya “agama” dengan berbagai “kepentingan” sosial kemasyarakatan pada level historis-empiris merupakan salah satu persoalan keagamaan kontemporer yang paling rumit untuk dipecahkan. Hampir semua agama mempunyai “institusi” dan “organisasi” pendukung yang memperkuat, menyebarluaskan ajaran agama yang diembannya. Institusi dan organisasi sosial-keagamaan tersebut ada yang bergerak dalam wilayah sosial-budaya, sosial kemasyarakatan, pendidikan, politik, ekonomi, jurnalistik, pertahanan keamanan, paguyuban, dan lain sebagainya. Jika memang demikian halnya, maka sangat sulit menjumpai sebuah agama tanpa terkait dengan “kepentingan” kelembagaan, kekuasaan, dan intertest-interest tertentu betapapun tingginya nilai transendental dan sosial yang dikandung oleh kepentingan tersebut. Di Indonesia, dan berbagai negara lain, fenomena ini sangat mudah dijumpai.[14]

Untuk itu, jelas bilamana penelitian agama dekat dengan subjek dan objek yang diteliti mengenai masyarakat dan lingkupnya (perilaku sosial, pranata sosial, dan lain sebagainya). Maka ketika memahami penelitian agama, kita mesti tahu terlebih dahulu tentang memahami agama sebagai objek penelitiannya. Memahami agama, yang perlu kita ketahui terbagi menjadi tiga kategori pemahaman. Pertama, agama sebagai doktrin. Penelitian agama sebagai suatu doktrin menimbulkan beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang timbul di antaranya: apakah substansi dari keyakinan religius itu, apakah yang diyakini sebagai kebenaran yang hakiki, apa makna ajaran agama itu bagi pemeluknya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mungkin paling berdekatan dengan usaha pencarian kebenaran agama, sebagaimana yang dilakukan oleh pemikir agama dan mujtahid.

Tetapi apabila para mujtahid mengatakan bahwa “inilah ajaran yang sesungguhnya” dan pemikir mengatakan “inilah sepanjang penelitian saya yang benar”, maka akan terjadi kemandekan satu pemikiran karena pendapat atau pemikirannya itu adalah sudah benar dan sempurna. Apabila ulama dan pemikir berpendapat demikian maka akan terjadi kemandekan pemikiran terhadap agama karena mereka sudah mengambil sebuah kesimpulan demikian. Tradisi ilmiah tidak berakhir dengan kepastian dan mendakwahkan diri sebagai penemu kebenaran.

Ali Syari’ati seorang sarjana Iran, menyatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan kejumudan atau stagnasi dalam pemikiran, peradaban dan kebudayaan yang berlangsung hingga seribu tahun di Eropa pada abad pertengahan adalah metode pemikiran analogi Aristoteles. Di kala cara melihat masalah obyek itu berubah, maka sains, masyarakat dan dunia juga berubah dan segala akibatnya kehidupan manusia juga berubah. [15] Dengan demikian kita dapat memahami akan pentingnya metodologi sebagai faktor fundamental dalam renaisans. Tradisi ilmiah hanya berusaha menemukan apa yang dianggap benar.

Karena bertolak dari keinginan untuk mengetahui dan memahami esensi agama, maka salah satu disiplin ilmu yang paling banyak berkecimpung dalam penelitian agama sebagai satu doktrin ini adalah perbandingan agama. Pengetahuan yang mendalam tentang esensi ajaran agama ini akan mampu meningkatkan pengalaman agama bagi seseorang sehingga pada akhirnya seseorang akan mampu menemukan makna agama bagi manusia itu sendiri. Ilmu perbandingan agama di sisi lain akan juga mampu menciptakan satu tatanan masyarakat agamis yang satu agama dengan agama yang lainnya dapat saling menghormati. Sehingga pada akhirnya kerukunan antar umat beragama dapat terwujud dengan sebaik-baiknya. Makna kerukunan tidak lagi sebatas pada tataran struktural ideologis yang bersifat eksklusif. Dalam penelitian agama sebagai doktrin, studi yang banyak dilakukan adalah bercorak sejarah intelektual atau sejarah pemikiran dan biografi tokoh agama. Teks-teks keagamaan baik yang wahyu maupun hasil ijtihad, tradisi serta catatan sejarah merupakan bahan-bahan utama yang digali. Maka di samping filologi dan kritik teks serta ilmu filsafat maka sejarah merupakan disiplin yang memiliki peranan yang sangat penting.

Kategori kedua, adalah struktur dan dinamika masyarakat agama. Agama kata seorang ahli adalah landasan dari terbentuknya suatu “komunitas kognitif”.[16] Artinya agama merupakan awal dari terbentuknya suatu komunitas atau kesatuan hidup yang diikat oleh keyakinan hidup dan kebenaran hakiki yang sama yang memungkinkan berlakunya suatu patokan pengetahuan yang sama pula. Hanya dalam komunitas kognitif Islam bahwa Tuhan mutlak satu merupakan pengetahuan yang benar. Tri murti hanya riil di kalangan Hindu, sedangkan kesatuan roh kudus, Jesus dan Tuhan bapa adalah benar di masyarakat Kristen dan seterusnya.

Meskipun berangkat dari suatu ikatan spiritual para pemeluk agama membentuk masyarakat sendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Sebagai satu masyarakat komunitas ini pun memiliki tatanan yang berstruktur dan tidak pula terlepas dari dinamika sejarah. Sebagai contoh penelitian kedua ini adalah terjadinya pengelompokan Islam Santri, Priyayi dan Abangan. Ketiga kelompok komunitas muslim ini memiliki corak dan karakteristik yang berbeda. Corak kajian atau penelitian dalam kategori ke dua ini dihuni oleh disiplin-disiplin ilmu sosial – sosiologi, antropologi, sejarah dan lainnya.

Kategori ketiga, berusaha mengungkap sikap anggota masyarakat terhadap agama yang dianutnya. Jika kategori pertama mempersoalkan substansi ajaran agama yang dianutnya dengan segala refleksi pemikiran terhadap ajaran, sedangkan kategori kedua meninjau agama dalam kehidupan sosial dan dinamika sejarah, maka kategori ketiga adalah berusaha untuk mengetahui simbol-simbol dan ajaran agama. Salah satu pernyataan yang sering kita dengar adalah “meskipun tidak shalat dan berpuasa, tetapi jika Islam dihinakan suku bangsa ini akan tampil bergerak untuk membela Islam” artinya meskipun dimensi ritual masyarakat ini rendah namun dimensi keterikatan terhadap sebuah agama sangatlah kuat. Tentu ini hanyalah stereotype saja, tetapi dengan ini kita dapat mengetahui bahwa keterikatan seseorang terhadap agama antara yang satu dengan lainnya adalah tidak sama. Dalam pengertian tidak semua aspek atau dimensi agama mengikat pemeluknya dan tidak sama pula dalam keterikatan dalam beragama.

Sebagai contoh, si A lebih shaleh dibandingkan dengan si B. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan, apakah yang menyebabkan sikap keberagamaan yang berbeda? Apakah faktor pendidikannya, lingkungannya, status sosialnya ataukah ada faktor yang lainnya? Jadi kategori ketiga ini adalah masalah yang bersifat corak dan tingkatan keberagamaan. Meskipun ilmu-ilmu sosial yang bercorak kualitatif tidak terlalu sulit untuk memperlihatkan hal-hal yang berkaitan dengan keberagamaan ini. Dari kesemua corak pemahaman agama tersebut nampak bahwa penelitian agama merupakan bagian dari penelitian sosial, sebagaimana yang dipahami oleh A. Mukti Ali.

G. KESIMPULAN

Akhirnya dari berbagai pendapat dan kajian yang mendalam tentang memahami pendapat Mukti Ali menyangkut teori dasar penelitian agama di Indonesia, dapat kita simpulkan secara yakin bahwa penelitian agama merupakan bagian dari kajian yang di bahas dalam ilmu sosial. Hal ini didukung dengan adanya kerja sama antar peneliti menyangkut metodologi dan juga berbagai hasil penelitian yang terpublish, tidak bisa terlepas kepada teori-teori dan cara berpikir dalam ilmu sosial, hal yang sama juga ketika para pengkaji ilmu sosial menelaah ilmu agama. Itu terbukti sesuai dengan apa yang sebelumnya dikhawatirkan dan dipikirkan oleh Mukti Ali sampai akhirnya metodologi penelitian agama semakin kompleks dan semakin digandrungi oleh para akademisi dan peneliti setelah diketahui akar dasarnya bahwa agama sebagai refleksi atas iman tidak hanya terbatas pada kepercayaan saja, melainkan juga merefleksikan sejauh mana kepercayaan itu diungkapkan dalam dunia yang objeknya adalah perilaku manusia, dan itu bisa diuraikan bilamana ilmu agama dan ilmu sosial saling berintegrasi dan terkoneksi satu sama lain.

Bisa kita ambil contoh dalam bidang hukum keluarga, membahas tentang pernikahan, bahasan tentang hal tersebut sudah barang tentu tidak terlepas kepada pembicaraan soal praktek atau tradisi pernikahan, tata cara nikah, dan lain sebagainya walau kita pun juga membahas soal hukumnya. Perihal hukum pun muncul karena masyarakat perlu akan kedudukan hukum (halal, haram, mubah dan sebagainya) sehingga ketika terbentuknya produk hukum (taklif) biasanya terjadi karena dorongan atas keperluan akan kepastian hukum dan hal tersebut tidak lain lahir dari masyarakat sendiri selaku pelaksana hukum (mukallaf).

Gambaran tentang penelitian agama di Indonesia sejauh ini lebih mengacu kepada penelitian seputar studi Islam, ini menjadi bahan koreksian menurut penulis sebab bila kita menggunakan istilah penelitian agama sebagai sebuah ilmu maka hendaknya para pengkaji mengoreksi arah dan tata cara berpikir, bila bidang keilmuan ini ingin berkembang seperti bidang ilmu-ilmu lain dan masih banyak yang perlu dikaji ulang secara sistematis sebab sebagai bagian dari penelitian sosial sepatutnya refleksi keagamaan yang ditawarkan oleh A. Mukti Ali menjadi fokus penelitian agama. Maka semestinya hasilnya pun tidak hanya spekulasi teoritis melainkan argumentatif dan efektif dalam menyelesaikan permasalahan sosial yang krusial.

Penelitian agama di Indonesia sejauh ini mengalami perkembangan, baik dalam bidang kajian maupun terma-terma yang digunakan dalam bahasan keilmuan. Dalam bidang perencanaan pembangunan, pengaruh agama biasanya terkandung dalam filosofis sebuah aturan sebagai bentuk nilai yang luhur, sehingga acuan dalam pembentukan sebuah aturan biasanya tidak dapat terlepas dari nilai-nilai berupa ajaran-ajaran yang terkandung dalam sebuah agama. Bisa kita ambil contoh lahirnya pasal 2 ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 tentang pernikahan, di situ tercantum bahwa pernikahan dianggap sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya. Yudian Wahyudi dalam bukunya Ushul Fiqh versus Hermeneutika memberikan contoh tentang perlindungan berkendara dengan mewajibkan penggunaan helm ketika menggunakan kendaraan bermotor dalam Undang-undang lalu lintas, beliau menyatakan bahwa kewajiban tersebut merupakan perwujudan atau pemaknaan nila dari salah satu poin maqashid asy-syari’ah yaitu hifzh an-nafs. Dan masih banyak contoh lainnya.

Wajar bilamana ketika kita meneliti agama di Indonesia biasanya Islam lebih condong dan lebih banyak yang berminat untuk mengkajinya. Sebab mayoritas dan pengaruh Islam terhadap budaya lebih dominan ketimbang pengaruh agama-agama lain di negeri ini, walau tidak secara menyeluruh. Berbagai pendekatan digunakan, baik sejarah, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya untuk mengupas Islam sebagai sebuah kajian agama. Sebagian tulisan yang membahas soal agama yang pernah penulis temukan memang terdapat pengaruh agama selain Islam seperti Hindu dan Budha sebelum Islam masuk ke Indonesia. Seperti penelitian tentang pengaruh Hindu dan Budha dalam bangunan-bangunan masjid di daerah-daerah dan pengaruhnya pula dalam praktek keagamaan serta masih banyak lainnya. Hal itu semua merupakan ragam pembahasan dalam penelitian agama di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin, Metodologi Penelitian Agama; Pendekatan Multidisipliner, Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2006.

Abdullah, Taufik dan M. Rusli Karim (ed), Metodologi Penelitian Agama; Suatu Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004.

Ali, M. Sayuthi, Metodologi Penelitian Agama; Pendekatan Teori dan Praktek, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002.

Aliade, Mircea, dkk, Metodologi Studi Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.

Departemen Agama, Almanak Badan Litbang Agama, Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, 1984/1985.

Herdiana, Shinta, Model Penelitian Agama, artikel diakses pada tanggal 30 September 2015 dari www.slideshare.net/shintaariherdiana/model-penelitian-agama?from_action=save

Mudzhar, M. Atho, Pendekatan Studi Islam; Dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

Sumardi, Mulyanto, Penelitian Agama; Masalah dan Pemikiran, Jakarta: Sinar Harapan, 1982.

Suprayogo, Imam dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003.

Syari’ati, Ali, Tentang Sosiologi Islam, (terj.) S. Mahyuddin, dari judul asli “The Sociology of Islam”. Yogyakarta: Ananda, 1982.

Wahyudi, Yudian, Ushul Fikih versus Hermeneutika; Membaca Islam dari Kanada dan Amerika, Yogyakarta: Nawesea, 2010.

[1] Taufik Abdullah, Metodologi Penelitian Agama; Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1989), h. xii.

[2] Departemen Agama, Almanak Badan Litbang Agama, (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, 1984/1985) h. 3.

[3] Departemen Agama, Almanak Badan Litbang Agama, (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, 1984/1985) h. 3.

[4] Departemen Agama, Almanak Badan Litbang Agama, (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, 1984/1985) h. 3-4.

[5] Departemen Agama, Almanak Badan Litbang Agama, (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, 1984/1985) h. 13 dan 106.

[6] Departemen Agama, Almanak Badan Litbang Agama, (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, 1984/1985) h. 107-108.

[7] Meskipun dikatakan bahwa manfaat yang didapat dalam penelitian agama yang dikorelasikan dengan jenis penelitian lapangan (sosial) menjadikan prakteknya lebih mudah untuk mengolah dan menyajikan data secara lebih cermat, tajam dan mendalam. Hal ini sesuai dengan penjabaran Mukti Ali yang melihat gejala-gejala atas kecenderungan ahli ilmu sosial untuk memahami agama dan ahli ilmu agama untuk mengetahui pelbagai macam ilmu sosial. Kesemua itu merupakan kerja sama yang dinamis dengan menjalin hubungan antar dua bidang ilmu yang berbeda dalam dunia ilmu pengetahuan di Indonesia. Lihat Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama; Masalah dan Pemikiran, (Jakarta: Sinar Harapan, 1982), h. 20-21; Departemen Agama, Almanak Badan Litbang Agama, (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, 1984/1985) h. 108.

[8] Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama; Masalah dan Pemikiran, (Jakarta: Sinar Harapan, 1982), h. 24-25.

[9] Kejadian ini mungkin bisa dikatakan sama, ketika muncul istilah Islam Nusantara di tahun 2015 yang gencar diwacanakan oleh salah satu ormas Islam di Indonesia untuk mengistilahkan Islam yang ramah terhadap budaya Indonesia.

[10] Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (ed), Metodologi Penelitian Agama; Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), h. 35-48.

[11] Walau sebenarnya penulis masih merasa bingung apa yang menjadi penyebab lahirnya penelitian agama, apakah penelitian agama yang dimaksud adalah secara general? Atau diperuntukkan hanya dalam kajian studi Islam seperti yang selama ini dikaji oleh banyak kalangan akademik. Sebab bisa saja seperti penggunaan nomenklatur pada salah satu lembaga peradilan semisal pengadilan agama yang hanya mengadili kasus-kasus masyarakat yang beragama Islam. Menjadi dilematis bagi penulis, sebab bila membahas soal agama kita tahu tidak hanya Islam agama yang ada di Indonesia maupun di dunia. Apalagi di indukan menjadi penelitian agama, sehingga bisa dipahami secara singkat bahwa penelitian agama mengkaji tentang berbagai macam agama ataukah diperuntukkan dalam kajian Islamic studies saja.

[12] Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama; Masalah dan Pemikiran, (Jakarta: Sinar Harapan, 1982), h. 22.

[13] Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama; Masalah dan Pemikiran, (Jakarta: Sinar Harapan, 1982), h. 23.

[14] Mircea Aliade, dkk, Metodologi Studi Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), h. 1-2.

[15] Ali Syari’ati, Tentang Sosiologi Islam, (terj.) S. Mahyuddin, dari judul asli “The Sociology of Islam” (Yogyakarta: Ananda, 1982) h. 39.

[16] Ali Syari’ati, Tentang Sosiologi Islam, (terj.) S. Mahyuddin, dari judul asli “The Sociology of Islam” (Yogyakarta: Ananda, 1982) h. xiv.

By rahmatyudistiawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s